Anwar Hafid Jadikan Walatana Percontohan Pertanian Organik Sulteng

  • 18 Agt 2026 14:29 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Sigi - Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si., mendorong pengembangan pertanian organik di Desa Walatana, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, menjadi role model pertanian modern yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Sulawesi Tengah. Hal itu disampaikan saat menghadiri Panen Raya Budidaya Padi Organik Al-Khairaat dan Sarasehan Petani untuk Negeri di Desa Walatana, Selasa 18 Agustus 2026. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menilai pengembangan pertanian yang memadukan teknologi, riset, kemandirian petani, dan hilirisasi menjadi kunci meningkatkan kesejahteraan petani.

Anwar Hafid mengapresiasi pengembangan padi organik yang kini memasuki musim tanam keenam melalui kerja sama Badan Usaha Milik Al-Khairaat (BUMA). Menurutnya, konsistensi tersebut menunjukkan potensi Walatana untuk dikembangkan sebagai model pertanian modern di Sulawesi Tengah.

"Pertanian organik dan pertanian milenial seperti ini harus kita dorong. Saya berharap Walatana bisa menjadi role model pertanian di Sulawesi Tengah," ujar Gubernur.

Gubernur kemudian membagikan pengalamannya saat melihat langsung perkembangan pertanian modern di Provinsi Sichuan, Tiongkok. Menurutnya, kemajuan pertanian di wilayah tersebut ditopang riset, teknologi, sistem pengairan, kepastian pasar, manajemen keuangan, digitalisasi, serta hilirisasi.

"Saya ke Sichuan melihat bagaimana pertanian modern benar-benar dikembangkan. Mereka sudah mampu mempercepat masa panen dan meningkatkan frekuensi tanam. Ini menunjukkan bahwa pertanian bisa dikembangkan dengan pendekatan teknologi dan riset," katanya.

Anwar Hafid menekankan bahwa keberhasilan pertanian harus diukur tidak hanya dari jumlah produksi, tetapi juga dari nilai ekonomi yang diterima petani.

"Petani jangan hanya berpikir berapa ton yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah berapa nilai ekonomi yang diperoleh. Produksi harus menghasilkan pendapatan yang lebih baik bagi petani," tegasnya.

Ia mengatakan Sulawesi Tengah tidak harus meniru seluruh sistem pertanian negara lain, tetapi dapat mengadaptasi prinsip yang sesuai dengan kondisi daerah.

"Kita memang masih jauh, tetapi setidaknya kita bisa mulai. Yang paling penting adalah bibit dan hilirisasi. Kalau petani sudah mandiri menghasilkan bibit dan kita bantu dengan sistem yang baik, saya yakin hasilnya bisa lebih baik," ujarnya.

Gubernur juga menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, serta ahli pertanian dan ekonomi untuk membangun ekosistem pertanian yang terintegrasi. Ia berharap Walatana tidak berhenti pada kegiatan produksi dan panen, tetapi berkembang mulai dari penyediaan bibit, budidaya, pengolahan, pemasaran hingga hilirisasi.

"Kalau Walatana ini kita dorong dengan riset, bibit yang baik, teknologi, pasar dan hilirisasi, saya yakin ini bisa menjadi contoh yang dapat kita kembangkan di daerah lain," pungkasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae, S.Sos., M.Si., Kepala Perwakilan Bank Indonesia Moh. Irfam Sukarna, Rektor Universitas Islam Alkhairaat (Unisa), Ketua Umum PB Al-Khairaat Habib Sayyid Alwi bin Saggaf Aljufri, Ketua Banom Al-Khairaat, Satgas Swasembada Pangan, sejumlah kepala perangkat daerah terkait, serta masyarakat Kecamatan Dolo Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....