Kearifan Lokal Dinilai Jadi Kunci Penguatan Pendidikan Karakter di Sulteng

  • 28 Jul 2026 08:19 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Kearifan lokal dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat pendidikan karakter sekaligus menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda di Sulawesi Tengah. Pendekatan tersebut diyakini mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki identitas budaya yang kuat.

Hal itu disampaikan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, Drs. Rustam Arifuddin, M.Si., saat memaparkan materi sosialisasi Penanaman Nilai-Nilai Pancasila dan Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal untuk Sulteng Nambaso di MTs Negeri 2 Kota Palu, Senin 27 Juli 2026.

Menurut Rustam, penguatan karakter menjadi semakin penting di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi yang mulai mengikis nilai gotong royong, kesantunan, serta kepedulian sosial di kalangan generasi muda. Kondisi tersebut menuntut hadirnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter.

Ia menjelaskan, Sulawesi Tengah memiliki kekayaan adat dan budaya yang dapat dijadikan media pembelajaran karakter secara kontekstual. Nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat adat dinilai sejalan dengan nilai-nilai Pancasila sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh peserta didik.

"Pendekatan berbasis kearifan lokal membuat nilai Pancasila lebih mudah dipahami, dihayati, dan diamalkan karena bersumber dari akar budaya sendiri," jelasnya.

Rustam mengatakan, terdapat empat tujuan utama yang ingin dicapai melalui penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, yakni menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, membangun karakter peserta didik, memperkuat sinergi antara sekolah, keluarga, dan lembaga adat, serta menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal.

Dalam pemaparannya, ia juga menekankan pentingnya implementasi lima sila Pancasila dalam kehidupan peserta didik, mulai dari membangun sikap religius dan toleran, menumbuhkan empati terhadap sesama, memperkuat semangat persatuan dan gotong royong, membiasakan musyawarah, hingga menanamkan nilai keadilan sosial.

Rustam menilai keberhasilan pendidikan karakter tidak dapat dilakukan oleh sekolah semata. Peran Badan Musyawarah Adat (BMA) sebagai mitra strategis dinilai penting dalam menjaga warisan adat, menjembatani nilai budaya dengan pendidikan formal, mendampingi sekolah, serta memperkuat identitas budaya generasi muda di tengah tantangan globalisasi.

Ia menambahkan, implementasi pendidikan karakter dapat dilakukan melalui integrasi nilai Pancasila dalam kurikulum, pembiasaan budaya sekolah seperti gotong royong dan musyawarah, kolaborasi berkelanjutan antara sekolah dan lembaga adat, serta keteladanan dari guru dan tokoh masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berharap lahir generasi Sulteng Nambaso yang berkarakter, berbudaya, dan berjiwa Pancasilais, dengan sinergi antara sekolah, keluarga, dan lembaga adat sebagai kunci utama mewujudkan pendidikan karakter yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....