Peringati Hari Anak Nasional 2026, PKPA Sulteng Suarakan Aspirasi Anak

  • 24 Jul 2026 06:30 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Sulawesi Tengah menggelar Pekan Hari Anak Nasional 2026 di Gedung Mary Glow, Kamis 23 Juli 2026. Kegiatan tersebut melibatkan komunitas Satgas Digital Safety serta menghadirkan puluhan tenaga pendidik dan siswa dari berbagai satuan pendidikan di Kota Palu dan Kabupaten Sigi.

Koordinator Area PKPA Sulawesi Tengah, Rezky Amelia, menuturkan rangkaian kegiatan ini telah berlangsung sejak awal Juli 2026 melalui program Digital Safety Goes To School. Adapun tema "Voice of the Voiceless" diusung menjadi wadah nayata dalam menyuarakan aspirasi dari seluruh anak-anak di daerah ini.

"Kita mau memberikan ruang di mana anak-anak Indonesia tidak hanya sekadar partisipan, tapip juga diberikan ruang-ruang terbuka untuk bisa menyampaikan rekomendasi dan aspirasinya," ucap Rezky saat ditemui disela kegiatan.

Lebih lanjut, kegiatan ini juga menyoroti tingginya kerentanan anak terhadap berbagai bentuk kekerasan di ruang digital. Untuk itu, sebagai rangkaian dari acara tersebut, PKPA Sualwesi Tengah turut meggelar Seminar Digital Safety guna meningkatkan pemahaman guru dan orang dalam melindungi anak di ranah daring.

"Seperti yang kita tahu, era digital semakin pesat dan kuat. Kami berharap tidak ada kekerasan di ranah daring. Namun pada kenyataannya banyak sekali kasus kekerasan yang ditemukan di ruang digital. Maka dari itu, ancaman kekerasan di ranah daring seharusya menjadi PR kita bersama, karena kita tidak bisa menekan lajunya era digitalisasi saat ini," lanjutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Palu, Hardi, yang hadir membuka kegiatan mengapresiasi konsistensi PKPA Sulawesi Tengah dalam memastikan pemenuhan hak dan perlindungan anak di Kota Palu. Sejalan dengan tema acara, dirinya mendorong tenaga pendidik dan orang tua untuk memberikan kesempatan yang sama kepada anak untuk mengekspresikan diri dan mendengarkan pandangannya.

"Proses pembelajaran harus betul-betul bersifat demokrasi, artinya proses tersebut melibatkan anak di dalamnya. Sehingga dia mampu mengungkapkan pikirannya, mengungkapkan idenya, bahkan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan anak pun harus diberikan kesempatan," ucap Hardi.

Rangkaian acara tersebut turut dimeriahkan dengan tari kreasi oleh siswi SD Zion Kota Palu dan pembacaan Suara Anak oleh Satgas Digital Safety. Selain itu, para peserta juga dapat memanfaatkan fasiltias perpusatakaan keliling yang dihadirkan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Palu serta layanan konseling dari Sentra Nipotowe.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....