Kedai Kopi Tumbuh di Bahodopi, Industri IMIP Peluang Ekonomi Warga
- 13 Jun 2026 19:14 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Morowali - Geliat ekonomi masyarakat di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, terus menunjukkan perkembangan yang dinamis. Di luar kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), berbagai peluang usaha baru bermunculan, salah satunya bisnis kedai kopi yang kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat dan para pekerja.
Pertumbuhan usaha kedai kopi menjadi gambaran nyata efek pengganda ekonomi dari aktivitas industri di kawasan IMIP. Kehadiran puluhan ribu pekerja dengan kebutuhan konsumsi harian membuka ruang berkembangnya berbagai sektor usaha jasa dan kuliner, mulai dari warung makan, katering, hingga kafe dan kedai kopi.
Berdasarkan survei UMKM yang dihimpun Tim Research and Support Department Secretariat and General Affair (SGA) PT IMIP, sektor kuliner menjadi kategori usaha terbesar di Kecamatan Bahodopi. Hingga Oktober 2025 tercatat sebanyak 2.107 unit usaha kuliner atau sekitar 26 persen dari total 7.643 unit UMKM yang ada. Dari jumlah tersebut, terdapat 111 kafe dan restoran yang tumbuh seiring meningkatnya aktivitas ekonomi di wilayah lingkar industri.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan langsung dampak positif tersebut adalah Moh. Ahdiat (27), pendiri Solusi Kopie di Desa Keurea, Kecamatan Bahodopi. Kedai kopi yang dirintis sejak 2021 itu kini berkembang menjadi salah satu tempat favorit masyarakat dan pekerja kawasan industri.
"Sebelumnya saya pernah pengalaman kerja di kedai kopi, tapi skala kecil," ujar Ahdiat saat ditemui Jumat 12 Juni 2026.
Ia mengungkapkan, sekitar 80 persen pelanggan Solusi Kopie berasal dari kalangan pekerja kawasan IMIP. Dalam periode Juni 2025 hingga Juni 2026, omzet usahanya mencapai Rp120 juta hingga Rp150 juta per bulan. Pertumbuhan tersebut juga berdampak pada peningkatan kebutuhan tenaga kerja, dengan total 10 karyawan yang bekerja sebagai barista, pelayan, kasir, dan staf dapur.
Menurut Ahdiat, membangun budaya kerja yang baik menjadi salah satu kunci mempertahankan kualitas usaha sekaligus meningkatkan keterampilan karyawan.
"Dalam bisnis, penting membentuk budaya kerja. Itu nantinya akan membentuk suatu sistem yang baik," katanya.
Kisah serupa dialami Musti Coffee yang berdiri pada Agustus 2024. Kedai kopi milik Selvina Astuti itu berhasil berkembang berkat meningkatnya jumlah pekerja yang menciptakan pasar baru di Bahodopi.
Pada enam bulan awal beroperasi, omzet harian Musti Coffee berkisar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu. Namun saat ini pendapatan kotor mencapai Rp2,5 juta hingga Rp3 juta per hari atau sekitar Rp75 juta hingga Rp90 juta per bulan. Usaha tersebut juga telah membuka lapangan pekerjaan bagi empat orang sebagai koki, pelayan, dan barista.
"Semakin banyak kafe justru semakin beragam pilihan bagi konsumen. Ini membuat saya terus berinovasi karena setiap kafe punya karakter, konsep, dan target audiens sendiri," ujar Selvina.
Kisah Solusi Kopie dan Musti Coffee menunjukkan bahwa pertumbuhan industri tidak hanya menciptakan lapangan kerja langsung di dalam kawasan, tetapi juga melahirkan peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar. Dari secangkir kopi yang dinikmati para pekerja, lahir ruang kewirausahaan yang memperluas serapan tenaga kerja dan memperkuat perekonomian masyarakat di lingkar kawasan industri IMIP.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....