Asah Kompetensi Tinggi lewat Seleksi Duta SMA

  • 10 Jun 2026 12:19 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Menjadi seorang Duta SMA Indonesia bukanlah perkara mudah. Proses seleksi yang panjang dan kompetitif menuntut para peserta memiliki kompetensi yang tinggi, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Hal tersebut dirasakan langsung oleh Adit, pelajar asal Kota Palu yang berhasil bergabung dalam Angkatan Duta SMA Indonesia 2025.

Adit mengaku pengalaman bersaing dengan ribuan pelajar dari seluruh Indonesia menjadi salah satu momen paling berkesan dalam hidupnya. Dari lebih dari dua ribu pendaftar yang mengikuti seleksi, hanya sekitar dua ratus peserta yang berhasil lolos ke tahap berikutnya. Jumlah tersebut kemudian kembali disaring hingga menyisakan 78 pelajar terbaik yang berhak mengikuti tahap nasional.

"Angkatan kita dua ribu lebih pendaftar, diseleksi jadi dua ratusan, kemudian yang berangkat cuma tujuh puluh delapan," ungkap Adit.

Untuk mencapai tahap final, peserta harus melalui berbagai tahapan seleksi yang ketat. Proses dimulai dengan seleksi administrasi yang mengharuskan peserta melampirkan dokumen resmi serta portofolio prestasi akademik dan nonakademik. Selanjutnya, peserta ditantang menyusun esai opini untuk mengukur kemampuan berpikir kritis terhadap berbagai isu terkini.

Tidak hanya itu, para peserta juga diwajibkan membuat video profil yang berisi pemaparan visi, misi, dan advokasi yang diusung. Tahap akhir seleksi dilakukan melalui wawancara mendalam bersama dewan juri guna menilai kemampuan komunikasi, karakter, serta potensi kepemimpinan para peserta.

Peserta yang berhasil lolos kemudian mengikuti masa karantina intensif di Bogor, Jawa Barat. Selama karantina, para finalis mendapatkan pembekalan mengenai penguatan karakter, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan dari para ahli serta pejabat terkait.

Kegiatan tersebut dirancang untuk membentuk sosok duta yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan jiwa kepemimpinan yang kuat. Selain menerima materi di dalam kelas, para finalis juga mengikuti berbagai kunjungan edukatif ke tempat bersejarah, termasuk Museum Kepresidenan.

Baginya, kesempatan bertemu dan berinteraksi dengan pelajar-pelajar berprestasi dari berbagai daerah di Indonesia menjadi pengalaman yang sangat berharga. Tantangan yang dihadapi selama masa karantina tidak hanya membentuk mental yang tangguh, tetapi juga memperluas jaringan pertemanan dan relasi di tingkat nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....