Gubernur Sulteng Soroti Potensi Kelapa yang Mulai Dilupakan Masyarakat
- 03 Jun 2026 16:47 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu – Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyoroti semakin berkurangnya keberadaan pohon kelapa di daerah ini khususnya di kawasan Kota Palu. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan mulai terlupakannya potensi besar komoditas kelapa yang selama ini menjadi salah satu identitas daerah.
Hal itu disampaikan Anwar saat Rapat Paripurna DPRD Sulawesi Tengah terkait Penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun Anggaran 2025 di Palu, Selasa, 2 Juni 2026.
Anwar mengaku keprihatinannya muncul setelah melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Hainan, China, beberapa waktu lalu. Ia melihat bagaimana daerah tersebut menjadikan pohon kelapa sebagai bagian penting dari tata kota sekaligus komoditas bernilai ekonomi tinggi.
“Mulai dari bandara penghijauannya semua kelapa. Semua jalan-jalan protokol, jalan negara, jalan apapun semua kiri kanan trotoar dan sebagainya semua penghijauannya kelapa,” kata Anwar.
Menurut Ketua Partai Demokrat Sulawesi Tengah itu, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Sulawesi Tengah yang justru memiliki simbol pohon kelapa dalam lambang daerahnya, namun keberadaannya semakin sulit ditemukan di kawasan perkotaan.
“Sulawesi Tengah ini lambangnya kelapa. Tapi sudah tidak ada kelapa di dalam kota,” ujarnya.
Sebagai bentuk pengingat akan pentingnya komoditas tersebut, pihaknya, kata dia, telah menanam pohon kelapa replika di halaman Kantor Gubernur. Langkah itu, bagi Anwar, dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat bahwa kelapa merupakan warisan sumber daya yang memiliki nilai strategis bagi daerah.
“Makanya kemarin Kepala Biro Umum tanam kelapa di depan kantor gubernur tapi bukan aslinya. Itu sebenarnya menyinggung supaya kita kembali mengingat bahwa sebetulnya orang tua kita mewariskan Sulawesi Tengah ini dengan sumber daya kelapa,” ucapnya.
Anwar menilai kelapa tidak hanya memiliki nilai historis dan budaya, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi yang besar apabila dikelola secara optimal. Pun, pengalaman yang ia dapatkan selama berada di Hainan juga menunjukkan bahwa hampir seluruh bagian kelapa dapat diolah menjadi produk bernilai jual tinggi.
“Saya di Hainan itu disuguhkan minuman susu, kemudian secangkir air putih. Saya pikir ini arak. Jadi saya coba cium-cium dulu. Begitu saya cium, ternyata air putih itu bukan air soda tapi air kelapa. Jadi minuman-minuman di saat-saat rapat tertentu itu semua air kelapa," ujarnya.
"Di Sulawesi Tengah cuma kita buang-buang saja itu air kelapa," kata Anwar melanjutkan.
Menurut Anwar, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi Sulawesi Tengah untuk kembali melihat kelapa sebagai komoditas unggulan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Ia menilai, selain memiliki ketersediaan sumber daya yang melimpah, pengembangan industri hilir kelapa juga berpotensi menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Olehnya, ia berharap kesadaran masyarakat terhadap potensi kelapa dapat kembali tumbuh, tidak hanya sebagai tanaman penghijauan, tetapi juga sebagai komoditas yang mampu memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan bagi daerah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....