Kolaborasi Teknologi dan Budaya, UNTAD Perkuat Eksistensi Batik Donggala

  • 28 Mei 2026 12:37 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Tim dosen lintas disiplin dari Universitas Tadulako (UNTAD) berhasil menghadirkan inovasi pelestarian budaya melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia. Program ini menggabungkan teknologi komputasi modern dengan seni batik tradisional sebagai upaya memperkuat eksistensi batik khas Sulawesi Tengah di era digital.

Program tersebut dipimpin oleh Kadek Hariana bersama tim yang terdiri dari Sisriawan Lapasere, Desrin Lebagi dan Kadek Agus Dwiwijaya. Kolaborasi lintas bidang ini memadukan pendekatan seni, komputasi, bahasa, hingga bisnis kreatif dalam pengembangan batik Donggala berbasis inovasi teknologi.

Keberhasilan program turut didukung keterlibatan aktif mahasiswa dan alumni UNTAD dalam penyusunan modul pembelajaran seni serta pendampingan lapangan. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar bersama alumni seperti Riska Efendi dan Nurhalifah mengambil peran penting dalam mendukung pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat tersebut.

Ketua tim pelaksana program, Kadek mengatakan inovasi yang dikembangkan bersama tim dosen lintas disiplin Universitas Tadulako menjadi langkah nyata dalam memadukan teknologi modern dengan pelestarian budaya lokal.

“Kami ingin menghadirkan inovasi yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga tetap menjaga nilai filosofis dan identitas batik khas Sulawesi Tengah agar dapat terus dikenal dan diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya kepada RRI.

Tim pelaksana memanfaatkan simulasi komputer, geometri fraktal, hingga kecerdasan buatan untuk menciptakan motif batik baru yang tetap berakar pada nilai budaya lokal. Seluruh desain yang dihasilkan tetap melalui proses validasi bersama pengrajin senior agar filosofi dan identitas budaya daerah tidak hilang.

Melalui program bertajuk “Batik Banava Goes to School”, tim UNTAD menggandeng Sanggar Batik Banava Nol Satu di Kabupaten Donggala sebagai mitra utama kegiatan. Sanggar tersebut selama ini menjadi ruang pemberdayaan ekonomi bagi perempuan penyintas gempa dan tsunami Palu 2018 melalui kegiatan membatik.

Selain pengembangan keterampilan membatik, program ini juga menghadirkan dukungan psikososial bagi para pengrajin perempuan melalui kolaborasi dengan Komunitas MindShiftPuan. Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan rasa percaya diri sekaligus memperkuat semangat berkarya para pengrajin lokal.

Program ini turut diperkenalkan ke sekolah-sekolah di Kota Palu dengan melibatkan siswa SD dan SMK dalam pembelajaran desain digital dan filosofi motif lokal seperti Burung Maleo, Rumah Tambi, dan Ombak Teluk Palu. Sepanjang 2026, program ini ditargetkan mampu melahirkan puluhan motif batik digital baru serta membangun perpustakaan digital batik sebagai bagian dari pelestarian budaya Sulawesi Tengah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....