Tingginya Aktivitas Karyawan IMIP Jadi Penggerak Ekonomi Lokal di Morowali

  • 09 Mei 2026 14:06 WIB
  •  Palu
Poin Utama
  • Kehadiran kawasan IMIP menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi lokal
  • Tingginya aktivitas konsumsi harian yang didominasi tenaga kerja usia produktif
  • Mayoritas karyawan produktif berada pada rentang usia 26–35 tahun
  • Aktivitas konsumsi para karyawan ini membentuk perputaran ekonomi yang signifikan
  • Menunjukkan besarnya kontribusi tenaga kerja industri terhadap pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat

RRI.CO.ID, Morowali - Kehadiran kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) tak hanya sebagai pusat aktivitas hilirisasi nikel nasional, tapi juga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi lokal dan regional. Hal ini tercermin dari tingginya aktivitas konsumsi harian yang didominasi tenaga kerja usia produktif di Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah tersebut.

Berdasarkan survei perputaran ekonomi di Kecamatan Bahodopi, mayoritas karyawan produktif berada pada rentang usia 26–35 tahun, dengan proporsi mencapai 56,4 persen dari total responden. Komposisi demografis ini menunjukkan, kawasan IMIP didukung kelompok usia produktif yang aktif secara ekonomi, dengan tingkat belanja kebutuhan harian yang tinggi dan stabil.

Survei dari tim Research and Support Departemen Secretariat General Affair PT IMIP mencatat, 98,4 persen responden mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan konsumsi makanan dan minuman setiap hari. Sementara, rata-rata belanja konsumsi tercatat mencapai sekitar Rp2,19 juta per orang setiap bulan, menunjukkan sektor kuliner sebagai salah satu tulang punggung utama ekonomi lokal di lingkar industri IMIP.

Dalam riset itu disebutkan, secara agregat aktivitas konsumsi para karyawan ini membentuk perputaran ekonomi yang signifikan. Total pengeluaran bulanan karyawan di kawasan IMIP diperkirakan mencapai Rp492 miliar, atau setara Rp5,9 triliun dalam setahun.

Angka ini tidak hanya mencerminkan daya beli yang kuat, tapi juga menunjukkan besarnya kontribusi tenaga kerja industri terhadap pertumbuhan ekonomi berbasis masyarakat. Tingginya konsumsi harian tersebut turut mendorong perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Bahodopi dan sekitarnya.

Saat ini tercatat sebanyak 7.643 unit UMKM beroperasi di kawasan tersebut, dengan komposisi usaha mikro sekitar 78 persen dan usaha kecil 22 persen. Kehadiran UMKM berperan penting dalam memenuhi kebutuhan harian para pekerja, terutama untuk alokasi kebutuhan makan-minum, kontrakan, hingga transportasi, dan lainnya.

Selain itu, sebagian besar pekerja yakni 82,6 persen, tinggal di rumah kos atau kontrakan dengan sewa rata-rata Rp1,26 juta per bulan. Sekitar 79,3 persen responden juga mengeluarkan biaya rutin untuk transportasi yang turut menggerakkan sektor jasa transportasi lokal.

Menariknya, 57 persen karyawan menyatakan lebih sering berbelanja di warung atau kios lokal dibandingkan ke toko modern. Faktor kedekatan lokasi menjadi alasan utama, di samping pertimbangan harga yang lebih terjangkau dan kedekatan sosial dengan penjual.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Sulteng, Andi Irman, mengungkapkan berbagai upaya strategis akan ditempuh demi meningkatkan iklim investasi kondusif. Khususnya, bagi perkembangan industri serta penguatan koordinasi antara pemerintah daerah dan pusat.

“Selain pengelolaan potensi fiskal daerah, pemerintah mendukung kebijakan hilirisasi industri untuk memberikan nilai tambah komoditas daerah,” kata Andi.

Dengan struktur demografi didominasi usia produktif serta daya beli kuat, kawasan IMIP diproyeksikan akan terus menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang dinamis. Kondisi ini berpeluang terus menghidupkan ruang pertumbuhan inklusif bagi pelaku UMKM di Bahodopi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....