Budayawan Dorong Pelestarian Tradisi Suku Kaili menjelang Lebaran

  • 20 Mar 2026 21:23 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Masyarakat Suku Kaili di Sulawesi Tengah melaksanakan beragam tradisi pada Hari Raya Lebaran. Beragam tradisi tersebut rutin dilaksanakan sebagai bagian dalam menyemarakkan Hari Raya Lebaran serta memperkenalkan budaya suku Kaili.

Pemerhati Budaya sekaligus juga Sekretaris Dewan Adat Kabupaten Sigi Atman menjelaskan, beragam tradisi tersebut bahkan telah dimulai jauh hari sebelum memasuki hari raya lebaran hingga pasca Lebaran.

"Di masyarakat suku Kaili ini melaksanakan tradisi itu baik sebelum hari H lebaran maupun sesudahnya," ucap Atman saat diwawancarai melalui sambungan telepon pada Jumat, 20 Maret 2026.

Ia menyebut, pada sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan, masyarakat suku kaili mempunyai salah satu tradisi dengan membakar lampu di depan rumah atau dalam bahasa kaili Notunju Liku. Tradisi ini memiliki makna simbolis menerangi halaman rumah untuk menunjukkan semangat beribadah.

"Itu sebenarnya simbol bahwa semangat kita itu tidak boleh padam malah kita tambah kuat untuk melakukan ibadah dan kita percayai bahwa malam itu akan turun malaikat pada malam Lailatul Qadar," ucap Atman.

Selain itu juga terdapat tradisi Nogoli Tarawih pada malam ke-17 Ramadan atau Nuzulul Quran. Tradisi ini dilaksanakan sebagai bagian dalam memperingati turunnya Alquran serta memperkuat ibadah di sisa bulan suci Ramadan.

"Dalam acara Nogoli Tarawih ini biasanya kita ada Molabe, itu ada baca syukuran begitu bahwa kita sudah memasuki pertengahan puasa," ucapnya.

Sehari menjelang Hari Raya Lebaran, juga terdapat beragam tradisi yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat suku Kaili, diantaranya Membayari Pitara atau membayar zakat fitrah, ziarah makam, nosulo atau pawai obor pada malam takbiran hingga gotong royong membersihkan masjid. Sementara pada hari Lebaran, setelah pelaksanaan Shalat Idulfitri, terdapat tradisi Nosisiara atau bersilaturahmi ke kediaman keluarga hingga silaturahmi ke tetangga.

"Nosisiara itu kita biasa menuju ke rumah orang tua kita atau keluarga tertua kita, kakak, di situ kita saling memaafkan, biasanya itu Nosisiara ini berlangsung sampai 7 hari," ucap Atman.

Atman menambahkan, beragam tradisi tersebut saat ini perlu terus disosialisasikan kepada generasi muda untuk menjaga keberlangsungannya, terutama di era kemajuan teknologi. Menurutnya pelestarian tradisi ini menjadi salah satu program utama dari Dewan Adat Kabupaten Sigi yang terus dilaksanakan.

"Dari usia dini kita harus sosialisasikan dan terutama di kalangan keluarga kita sendiri, mulai dari skala rumah tangga, lingkungan sekitar perlu kita sosialisasikan bahwa inilah kegiatan-kegiatan yang berlaku di keluarga kita," ucapnya.

Selain itu Atman menyebut kemajuan teknologi justru dapat dimanfaatkan sebagai medium untuk mempromosikan tradisi-tradisi untuk terus melestarikan budaya masyarakat Suku Kaili. Menurutnya masyarakat terutama generasi muda perlu diberikan pemahaman terkait makna filosofis dalam setiap tradisi yang dilakukan menyambut hari raya lebaran.

"Kita perlu mensosialisasikan bahwa sebenarnya ada makna-makna yang ada di balik tradisi-tradisi itu, kuncinya itu bagaimana memperkuat tali silaturahmi dan memperkuat hubungan di dalam keluarga dan di masyarakat sekitarnya," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....