CSR IMIP Kembangkan Ecoprint, Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan Desa

  • 17 Mar 2026 11:50 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Morowali - Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan. Salah satunya diwujudkan lewat pengembangan pelatihan kerajinan ecoprint, Senin, 16 Maret 2026, Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), IMIP secara berkelanjutan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera Bahomakmur. Program ini telah dimulai sejak Desember 2022 dengan menghadirkan pelatihan dasar pembuatan ecoprint sekaligus pengenalan potensi ekonomi hijau dari produk berbasis pewarna alami.

Pelatihan awal tersebut menghadirkan praktisi ecoprint asal Bali, Ni Nyoman Yeni Susanti, yang membagikan pengetahuan mengenai teknik produksi serta pengembangan usaha kriya berbasis bahan alami. Program kemudian berlanjut dengan pelatihan lanjutan pada 23–24 Desember 2023 di Balai Desa Bahomakmur, yang juga mencakup edukasi pembuatan eco-enzyme dari bahan organik.

Pada Februari 2024, kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera Bahomakmur resmi terbentuk dengan anggota sekitar 15 orang yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari ibu rumah tangga, anggota PKK, guru, hingga pelaku usaha kecil. Mereka secara rutin berkumpul setiap pekan untuk memproduksi kerajinan ecoprint di Balai Desa.

Ketua kelompok, Wa Ode Amanah, menjelaskan bahwa proses pembuatan ecoprint mengandalkan kreativitas dalam memanfaatkan dedaunan sebagai sumber warna dan motif alami.

“Kami menyusun daun di atas kain yang telah diproses dengan bahan alami, lalu dicetak melalui teknik tertentu sehingga menghasilkan motif yang unik dan tidak bisa diseragamkan,” ujarnya.

Beragam jenis daun dimanfaatkan dalam proses produksi, seperti daun kenikir, ketepeng, mahoni, hingga daun lanang dan daun afrika yang dikenal memiliki tekstur kuat dan menghasilkan motif tegas. Sementara itu, daun jati yang menjadi favorit karena menghasilkan gradasi warna khas, kerap didatangkan dari wilayah lain karena keterbatasan ketersediaan di desa.

Seiring perkembangannya, kelompok ini telah menghasilkan berbagai produk bernilai jual, mulai dari kain katun, sutra, dan linen bermotif ecoprint, hingga pashmina, kaus, topi, tas, bantal leher, dan tumbler stainless. Harga produk bervariasi, berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp700 ribu, tergantung jenis dan bahan.

Sejumlah produk bahkan telah dipasarkan sebagai cenderamata di kawasan industri IMIP. Kelompok ini juga aktif mengikuti berbagai pameran yang difasilitasi pemerintah setempat guna memperluas jangkauan pasar.

Ke depan, Kelompok Ecoprint Wanita Sejahtera Bahomakmur berencana meningkatkan kapasitas produksi serta memperkuat manajemen usaha, termasuk pembukuan keuangan. Dukungan peralatan produksi juga terus diupayakan melalui program CSR IMIP.

Wa Ode Amanah berharap, melalui pendampingan berkelanjutan dan semangat kolaborasi, kerajinan ecoprint dapat berkembang menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat desa.

“Kami ingin terus meningkatkan kualitas produksi dan pengelolaan kelompok agar usaha ini bisa berkembang lebih besar dan memberikan manfaat bagi anggota,” tuturnya.

Melalui program ini, IMIP tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis lingkungan, tetapi juga memperkuat peran perempuan dalam pembangunan ekonomi lokal yang berkelanjutan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....