Merawat Harmoni di Bumi Tadulako, Cap Go Meh dan Ramadan Bersatu di Palu

  • 04 Mar 2026 11:57 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Nuansa kehangatan dan persaudaraan lintas iman terasa kuat dalam perhelatan Harmoni Imlek Nusantara Cap Go Meh Festival yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Milenium Waterpark, Kota Palu, Selasa, 3 Maret 2026. Perayaan budaya Tionghoa yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan itu menjadi ruang perjumpaan penuh makna bagi masyarakat Sulawesi Tengah.

Kegiatan yang digagas Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sulawesi Tengah tersebut memadukan perayaan Cap Go Meh, malam ke-15 setelah Tahun Baru Imlek dengan momen kebersamaan umat Muslim dalam berbuka puasa. Kolaborasi ini menghadirkan simbol nyata toleransi yang hidup di Kota Palu.

Sejumlah tokoh lintas agama dan organisasi turut hadir, di antaranya jajaran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulteng, APINDO Sulteng, Yayasan Karunadipa, FPK Kota Palu, hingga perwakilan Rumah Disabilitas Merah Putih. Kehadiran berbagai unsur masyarakat ini semakin menegaskan semangat kebersamaan yang menjadi ruh kegiatan tersebut.

Ketua PSMTI Sulteng, Wijaya Chandra, menyampaikan bahwa Cap Go Meh bukan sekadar perayaan budaya, melainkan momentum refleksi dan kebersamaan. Ia menggambarkan malam ke-15 Imlek sebagai simbol cahaya dan keseimbangan.

“Hari ini adalah malam purnama pertama di tahun baru penanggalan Tionghoa. Ketika alam berada dalam keseimbangan, kita sebagai manusia juga diajak untuk menjaga harmoni, saling menghargai, dan berbagi dalam kebajikan,” ujar Wijaya.

Ia menegaskan, kegiatan tersebut bukan milik satu kelompok semata, melainkan hasil gotong royong banyak pihak. Menurutnya, kebersamaan yang terbangun menjadi kekuatan utama terselenggaranya acara.

“Kegiatan ini lahir dari rasa percaya dan semangat berbagi. Saat niatnya kebajikan, dukungan datang dengan sendirinya. Kota Palu adalah rumah kita bersama, dan di rumah inilah kita rawat persaudaraan tanpa sekat,” tambahnya.

Acara semakin semarak dengan penampilan Barongsai tiga naga, tarian kolosal Koko Cici, serta pertunjukan marawis dari Rumah Disabilitas Merah Putih yang mendapat apresiasi hangat dari para tamu undangan.

Ketua FKUB Sulteng, Prof. Zainal Abidin, dalam tausiyahnya menjelang berbuka puasa, menegaskan pentingnya menjaga nilai persaudaraan di tengah keberagaman.

“Perbedaan bukan alasan untuk berjarak, justru menjadi jalan untuk saling mengenal dan menguatkan. Jika budaya dan ibadah bisa berjalan berdampingan seperti hari ini, maka itulah wajah Indonesia yang sesungguhnya,” tutur Prof. Zainal.

Ia juga menilai, perayaan yang memadukan Cap Go Meh dan buka puasa bersama menjadi contoh konkret bahwa toleransi bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan tersebut pun menjadi penegasan bahwa masyarakat Sulawesi Tengah mampu merawat harmoni dalam keberagaman. Budaya dapat dirayakan, ibadah tetap dijalankan, dan persaudaraan terus diperkuat dalam satu ruang kebersamaan yang hangat dan penuh makna.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....