Lomba Tradisional Pererat Kebersamaan Warga Tondo Ngapa

  • 06 Feb 2026 13:45 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Masyarakat RT 1 RW 1 Kelurahan Tondo Ngapa menggelar lomba bersama pada Kamis 5 Februari 2026. Kegiatan tersebut digelar untuk merekatkan tali silaturahmi antarwarga dan mempererat kebersamaan, khususnya menjelang Bulan Suci Ramadhan. 

Ketua RT 1 RW 1 Kelurahan Tondo Ngapa, Mustika, menyebut kegiatan tersebut merupakan inisiasi masyarakat yang merindukan kebersamaan dalam kehidupan bertetangga. Melalui semangat kebersamaan yang terbangun lewat berbagai lomba, diharapkan hubungan antarwarga semakin harmonis. 

"Jadi lomba ini merupakan inisiasi warga dalam menyambut Bulan Suci Ramadan, di mana kami sebelumnya telah menggelar rangkaian Nifsu Sya'ban, sehingga untuk mempererat silaturahmi kami mengadakan lomba ini yang akan dilanjutkan dengan No Arua pada malamnya," ujar Mustika. 

Mustika menambahkan, lomba yang digelar memiliki makna tersendiri, salah satu contohnya adalah lomba memarut kelapa menggunakan panggou atau pemarut kelapa tradisional yang diikuti oleh para pria. Lomba tersebut dipilih karena Panggou kini mulai ditinggalkan masyarakat, sekaligus sebagai pengingat bahwa laki-laki atau suami juga memiliki peran dalam pekerjaan rumah tangga.

"Panggou sudah mulai ditinggalkan masyarakat karena sudah ada alat yang lebih modern, sedangkan alat tersebut sangat penting di keluarga Kaili, di mana makanan yang dikonsumsi makanan bersantan seperti uta dada," ucapnya.  

Selain itu, terdapat pula lomba memakan pisang oleh ibu-ibu yang disuapi oleh anaknya. Lomba ini memiliki makna untuk mengajarkan anak agar bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada orang tua, khususnya ibu.

"Lomba tersebut mengajarkan kepada anak bagaimana mencurahkan kasih sayang dan berperilaku lemah lembut kepada orang tua yang berperan penting dalam kehidupan kita," tutur Mustika. 

Kegiatan lomba berlangsung dengan penuh antusias dan kebahagiaan dari masyarakat setempat. Para pemenang lomba mendapatkan hadiah berupa bahan pokok, seperti gula, minyak goreng, dan beras.

Usian kegiatan lomba, pada malam harinya dilanjutkan kegaitan tradisi No Arua, di mana masyarakat membawa makanan khas Kaili dari rumah masing-masing untuk disantap bersama. Setelah santap bersama, kegiatan akan dilanjutkan dengan tradisi Paipulu.

"Kami ingin menyambut Bulan Suci Ramadhan dengan hati yang riang, sehingga dengan tradisi No Arua ini diharapkan masyarakat dapat terus rukun dan menjalankan ibadah dengan hati yang bersih," kata Mustika.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....