Gerkatin Palu, Rumah Perjuangan Penyandang Tuli Sulawesi Tengah
- 31 Jan 2026 19:52 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Palu telah menjadi rumah perjuangan bagi penyandang tuli di Sulawesi Tengah sejak berdiri pada 20 November 2009. Organisasi ini lahir dari mandat langsung pengurus pusat Gerkatin kepada Yasin Ali Hado, yang saat itu melihat belum adanya wadah resmi bagi penyandang tuli di daerah.
Di tengah keterbatasan akses informasi dan minimnya perhatian pemerintah, Gerkatin Palu tumbuh secara bertahap melalui kerja-kerja advokasi dan penguatan komunitas. Keberadaan organisasi ini menjadi ruang aman bagi penyandang tuli untuk saling berbagi, belajar, serta memperjuangkan hak-hak dasar mereka sebagai warga negara.
Dewan Penasihat Gerkatin Palu, Yasin Ali Hado, menuturkan sejak awal berdiri, Gerkatin fokus memperjuangkan hak penyandang tuli, terutama dalam hal akses informasi, pendidikan, dan keterlibatan dalam kegiatan publik. Menurutnya, tantangan terberat di awal perjalanan adalah belum adanya pemahaman masyarakat dan pemerintah terhadap kebutuhan komunikasi penyandang tuli.
“Waktu awal berdiri, kami benar-benar mulai dari nol. Pemerintah belum mengenal Gerkatin dan belum memahami pentingnya akses komunikasi bagi teman-teman tuli,” ujar Yasin Ali Hado.
Seiring waktu, Gerkatin Palu mulai dikenal dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk peringatan Hari Disabilitas Internasional dan forum-forum lintas komunitas disabilitas. Keaktifan anggota, mulai dari remaja hingga dewasa, menunjukkan tingginya semangat partisipasi penyandang tuli dalam kehidupan sosial.
Namun demikian, hingga kini Gerkatin Palu masih menghadapi tantangan serius, khususnya minimnya penyediaan juru bahasa isyarat dalam kegiatan formal pemerintah. Kondisi tersebut kerap membuat penyandang tuli hadir dalam sebuah forum tanpa dapat memahami materi yang disampaikan.
Juru Bahasa Isyarat Gerkatin Palu, Irman Syah, menyebut absennya juru bahasa isyarat membuat informasi penting tidak tersampaikan secara utuh kepada penyandang tuli. Padahal, menurutnya, teman-teman tuli memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan kuat untuk terlibat aktif dalam diskusi.
“Sering kali teman-teman tuli hadir dalam kegiatan, tapi hanya duduk dan diam karena tidak ada juru bahasa isyarat. Informasi tidak sampai, padahal mereka ingin bertanya dan berpartisipasi,” kata Irman Syah.
Gerkatin Palu berharap ke depan pemerintah dan penyelenggara kegiatan semakin sadar akan pentingnya penyediaan akses komunikasi yang inklusif. Dengan dukungan tersebut, penyandang tuli diharapkan dapat berpartisipasi penuh dan setara dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....