Gelombang Tinggi Bawa Sampah, Ancam Mangrove Pesisir Teluk Palu
- 31 Jan 2026 12:46 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Tumpukan sampah yang terbawa gelombang tinggi hingga ke bibir pantai di Kota Palu beberapa waktu laut turut berdampak terhadap pohon mangrove yang ditanam di bibir pantai. Arus sampah tersebut berpotensi menghambat pertumbuhan mangrove, terutama tanaman yang baru ditanam.
Sekertaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu Ibnu Mundzir mengungkapkan, sampah yang tersebar di sejumlah wilayah pesisir didominasi oleh sampah plastik. Sampah tersebut diperkirakan berasal dari luar Kota Palu, hingga luar negeri.
"Memang tahun ini dari jenis sampah yang terbawa gelombang tinggi, baik organik maupun non-organik kami perkirakan berasal dari luar Kota Palu bahkan luar negara kita," ujar Ibnu Mundzir saat dikonfirmasi via telepon pada Jumat, 30 Januari 2026.
Penumpukan sampah di wilayah pesisir tersebut dikhawatirkan dapat menyebabkan penurunan populasi mangrove di Kota Palu apabila tidak segera diatasi. Terlebih, mangrove memiliki peran penting sebagai penyangga ekosistem pesisir, pelindung pantai dari abrasi, serta habitat berbagai biota laut.
"Kondisi ini perlu penanganan segera, karena banyak sampah yang masuk hingga kawasan konservasi mangrove, yang dapat mengakibatkan kerusakan vetegasi tumbuhan mangrove," tuturnya.

Sebagai langkah penanganan, Pemerintah Kota Palu menginisiasi Aksi Bersih Pantai yang dirangkaikan dengan Pra-Event Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kawasan Mangrove Pantai Dupa, Kecamatan Layana, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, masyarakat, serta komunitas lingkungan.
Baca Juga: Palu Hadirkan Pra-Event Hari Peduli Sampah Nasional 2026
Berdasarkan data yang telah diterima oleh DLH Kota Palu, mangrove yang paling terdampak akibat arus sampah adalah tanaman mangrove yang baru ditanam. Sebagian tanaman dilaporkan mengalami kerusakan, mulai dari patah hingga tidak tumbuh secara normal.
"Hampir setengah dari populasi mangrove dalam kondisi luka, seperti patah dan kondisi tidak tumbuh normal, khususnya tanaman mangrove yang baru di tanam," ucapnya.
Ibnu Mundzir menegaskan, penanganan sampah di wilayah pesisir memerlukan kolaborasi lintas sektor serta penguatan pengelolaan sampah secara berkelanjutan dari hulu hingga hilir. Selain itu, peningkatan kesadaran masyarakat dinilai penting agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai dan badan air yang bermuara ke kawasan mangrove.
"Jangan sampai hal yang kita anggap sederhana seperti membuat membuang sampah di sungai, membuang sampah di badan-badan air, justru berimbas sampai di Teluk Palu," ujar Ibnu Mundzir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....