Perjuangan 15 WNA Filipina Bertahan di Perairan Buol
- 26 Jan 2026 07:00 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu – Senyum haru dan lega kini terpancar dari wajah 15 Warga Negara Asing (WNA) asal Filipina yang nyaris kehilangan harapan di tengah laut. Mereka sempat terombang-ambing di perairan Kabupaten Buol saat hendak pulang kampung dari Malaysia menuju Filipina.
Setelah hampir 13 hari bertahan di atas perairan dan akhirnya diselamatkan nelayan setempat, mereka kini berada di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, guna menjalani proses karantina dan pemeriksaan dokumen keimigrasian sebelum dipulangkan ke negara asal.
Banjir (60), salah seorang WNA Filipina, mengenang detik-detik awal musibah yang mengubah perjalanan pulang mereka menjadi perjuangan hidup dan mati. Perahu kayu berukuran 19 kaki yang mereka tumpangi dari Semporna, Malaysia, menabrak batang kayu besar sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Benturan itu membuat bagian bawah perahu bocor dan tak lagi layak melanjutkan pelayaran.
“Kami pergi dari Semporna jam tiga subuh. Tapi, jam sepuluh dekat Tawi-Tawi (Provinsi di Filipina) terjadi, kena kayu di bawah perahu kami,” ujar Banjir saat diwawancarai di Kantor Imigrasi Palu, Minggu, 22 Januari 2026.
Dalam situasi darurat, seluruh peralatan yang memberatkan perahu termasuk mesin dengan terpaksa harus dibuang. Hal itu dilakukan agar delapan anak kecil yang ikut tetap berada di atas perahu.
“Mereka (anak kecil) di dalam perahu. Aku buang dua-dua enjin (mesin perahu) itu, biar timbul balik perahu itu,” kata Banjir dengan nada terbata-bata mengingat kejadian tersebut.
/cl83qpahl82ec2l.jpeg)
15 WNA asal Filipina saat berada di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu untuk menjalani karantina. (Foto: Sofyan/RRI)
Hari demi hari dilalui di tengah laut tanpa kepastian. Siang hari mereka disiksa terik matahari, malam hari dihantam ombak yang tak kenal ampun. Kulit mereka melepuh, tubuh melemah, dan persediaan makanan semakin menipis.
Untuk bertahan hidup, Banjir hanya mengandalkan beberapa keping biskuit yang dibagi kepada anak-anak. Ia memilih menahan lapar demi mereka.
“Aku tidak makan. Budak-budak (anak kecil) saja dalam satu biji dibelah dua untuk dua orang. Supaya makan semua budak-budak,” tuturnya.
Ketika biskuit habis, mereka bahkan mengais bungkusan sampah yang hanyut di laut, berharap menemukan sisa makanan. Untuk minum, mereka terpaksa meneguk air laut dan sesekali menampung air hujan.
“Pernah dapat satu kelapa saja, aku bagi-bagi semua dan aku tidak makan. (Demi) budak-budak ini, kalau mereka sehat akupun sehat. Kalau mereka meninggal akupun ikut meninggal,” kata Banjir dengan nada yang penuh kesedihan.
Setelah ratusan jam terombang-ambing di lautan, harapan itu akhirnya datang. Banjir, yang berprofesi sebagai nelayan, bersama beberapa WNA lainnya yang bekerja sebagai pencuci piring di Malaysia, bisa kembali bernapas lega.
Pada Kamis, 22 Januari, perahu mereka secara tak sengaja ditemukan nelayan Buol dan segera dievakuasi ke daratan. Pertolongan itu, bagi mereka, adalah mukjizat di tengah keputusasaan.
Kini, nasib ke-15 WNA tersebut menunggu kepastian jadwal pemulangan ke negara asal agar dapat kembali berkumpul dengan keluarga.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu Muhammad Akmal mengatakan, pihaknya saat ini terus berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal Filipina di Manado untuk proses pemulangan.
“Apabila semua ber-kewarganegaraan Filipina maka kami bersurat untuk dimohonkan travel dokumen untuk dipulangkan ke negara asalnya,” kata Akmal.
Ia memastikan proses pemulangan para WNA ini akan dilakukan dengan secepat mungkin agar mereka dapat kembali ke negara asalnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....