Paguyuban Bali Perkuat Budaya dan Persaudaraan
- 17 Jul 2025 21:17 WIB
- Palu
KBRN, Palu: Paguyuban Bali di Kota Palu berakar sejak tahun 1970-an, dimulai dari inisiatif beberapa warga Bali yang merantau dan bertugas di wilayah tersebut. Salah satu tokoh awal yang memelopori pertemuan warga Bali saat itu adalah Nyoman Edi, yang membuka rumahnya sebagai tempat berkumpul dan beribadah.
Seiring berjalannya waktu, jumlah warga Bali di Palu terus bertambah, terutama melalui program transmigrasi yang dijalankan pemerintah. Kondisi ini mendorong terbentuknya sebuah paguyuban yang lebih terorganisir untuk mengakomodasi kebutuhan sosial dan budaya mereka.
Kini, Paguyuban Bali yang juga dikenal sebagai Krama Adat telah menaungi lebih dari 600 kepala keluarga (KK) di Kota Palu. Untuk mengatur kegiatan dan solidaritas antarwarga, Krama Adat terbagi ke dalam lima kelompok Banjar yang dikenal sebagai Banjar Sukaduka.
Banjar Sukaduka menjadi wadah utama dalam memperkuat gotong royong antarwarga Bali di Palu, baik dalam situasi suka maupun duka. Peran ini sangat penting dalam menjaga kekompakan serta nilai-nilai kekerabatan khas masyarakat Bali.
Selain aspek sosial, paguyuban ini juga aktif melestarikan budaya Bali di tanah rantau melalui perayaan keagamaan seperti Nyepi, Galungan, dan kegiatan budaya lainnya. Anak-anak muda Bali pun dilibatkan dalam Sanggar Seni Taksu, tempat mereka belajar seni tari, gamelan, dan adat Bali lainnya.
Nyoman Slamet, Budayawan Bali sekaligus Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, menyebut kehadiran paguyuban ini telah menjadi pondasi kuat identitas warga Bali di luar daerah.
"Paguyuban ini bukan hanya tempat berkumpul, tapi juga benteng pelestarian budaya di tengah keberagaman Palu," ujarnya dalam Program Paguyuban di Pro 4 RRI Palu.
Nyoman menambahkan, keterlibatan generasi muda dan keterbukaan paguyuban terhadap warga Bali lintas agama merupakan langkah maju yang patut diapresiasi.
"Kita harus mengedepankan inklusivitas dan adaptasi terhadap zaman agar Krama Adat terus relevan dan bermanfaat," ucapnya.
Dengan visi memperkuat persaudaraan, menjembatani komunikasi dengan pemerintah, dan menjaga nilai-nilai kultural, Paguyuban Bali di Palu terus berkembang sebagai pilar kebudayaan serta kekuatan sosial warga Bali di tanah rantau. Mereka membuktikan, hidup dalam perbedaan dapat harmonis dengan semangat gotong royong dan keterbukaan. (AL)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....