Penggunaan Baya dalam Bahasa Kaili oleh Anak Muda

  • 30 Okt 2024 11:35 WIB
  •  Palu

KBRN, Palu: Ada fenoma dalam perbicangan di kalangan anak muda Kota Palu saat ini. Fenomena tersebut, yakni menggunakan kata "baya" diakhir kalimat yang mereka sampaikan.

Kata "baya" termuat dalam kamus bahasa daerah Kaili, Indonesia, dan Inggris, yang disusun oleh Donna Evans tahun 2003. Kata ini bila dikonotasikan dalam bahasa Indonesia, bermakna gila atau berpikiran tidak waras.

Pegiat media sosial di TikTok, dengan akun @Ipanktobarakaart, mengkritisi penggunaan kata "baya" ini. Menurutnya, akan lebih baik jika menggunakan kata yang memiliki makna positif dibandingkan negatif.

"Ucapan itu bagian dari doa, berilah sugesti yang baik kepada orang lain, ponondo, belo rara. Jangan baya baya, apakah itu?" tutur ipanktobaraka dalam video unggahannya, Sabtu (26/10/24).

Melestarikan bahasa daerah adalah upaya penting menjaga warisan budaya yang unik dan memperkaya keberagaman Indonesia. Bahasa daerah bukan hanya sekadar alat komunikasi, tapi juga merepresentasikan identitas dan nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun.

Sayangnya, bahasa daerah di Indonesia semakin terancam punah karena tergerus oleh globalisasi. Termasuk, dominasi bahasa nasional atau bahasa daerah lain di tempat tertentu serta perkembangan teknologi.

Upaya melestarikan bahasa daerah sangat penting dilakukan oleh masyarakat, pemerintah, dan generasi muda. Satu hal yang perlu diapresiasi adalah ketika bahasa daerah mulai digunakan menjadi bagian dari percapakapan anak muda. (MUJ)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....