Ramadhan Membentuk Diri, Peduli pada Lingkungan
- 28 Feb 2026 21:56 WIB
- Palu
RRI.CO.ID - PALU : Bulan suci Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadhan adalah momen membentuk karakter, memperkuat empati, dan menumbuhkan kepedulian—bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi juga terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah meningkatnya isu perubahan iklim, sampah plastik, hingga krisis air bersih, nilai-nilai Ramadhan sejatinya sangat relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Puasa mengajarkan pengendalian diri, kesederhanaan, dan rasa cukup. Nilai inilah yang bisa diterjemahkan dalam gaya hidup ramah lingkungan.
Pakar pendidikan dan pemerhati sosial, Dr. Sagir M.Amin, M.Pd., menegaskan bahwa Ramadhan adalah madrasah karakter yang sangat kuat, termasuk dalam membangun kesadaran ekologis.
“Puasa itu bukan sekadar ibadah ritual, tetapi latihan spiritual yang berdampak sosial dan ekologis. Ketika seseorang mampu menahan diri dari yang halal di siang hari, maka seharusnya ia juga mampu menahan diri dari perilaku merusak lingkungan,” ujar Sagir.
Menurutnya, kepedulian lingkungan dalam konteks Ramadhan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengurangi penggunaan plastik saat berburu takjil, tidak berlebihan dalam menyajikan makanan berbuka, hingga menghemat air saat berwudhu.
“Ramadhan mengajarkan kita tentang keseimbangan. Jangan sampai semangat ibadah meningkat, tetapi produksi sampah justru melonjak. Spirit Ramadhan adalah kesederhanaan dan tanggung jawab,” tambahnya.
Fenomena konsumsi berlebihan saat berbuka puasa dan sahur memang kerap menjadi sorotan. Data nasional menunjukkan peningkatan volume sampah rumah tangga selama bulan Ramadhan. Hal ini menjadi ironi di tengah semangat menahan diri dan berbagi.
Sagir juga mengingatkan bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari amanah sebagai khalifah di bumi.
“Kesalehan spiritual harus berjalan seiring dengan kesalehan sosial dan ekologis. Orang yang benar-benar memahami makna puasa, tidak akan tega membuang sampah sembarangan, merusak alam, atau boros sumber daya,” tegasnya.
Ramadhan pun menjadi momentum refleksi kolektif. Masjid, komunitas, hingga keluarga bisa menjadikan bulan ini sebagai titik awal gerakan ramah lingkungan—mulai dari program berbuka puasa minim sampah, penggunaan wadah ramah lingkungan, hingga kampanye hemat energi.
Di Kota Palu dan berbagai daerah lainnya, semangat ini mulai tumbuh. Komunitas muda, pelajar, hingga organisasi keagamaan perlahan mengintegrasikan pesan cinta lingkungan dalam kegiatan Ramadhan mereka.
Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya tentang perubahan selama 30 hari. Ia adalah proses pembentukan diri. Jika selama sebulan kita dilatih untuk sabar, peduli, dan sederhana, maka semestinya nilai itu terus hidup—bahkan setelah takbir kemenangan berkumandang.
Karena sejatinya, Ramadhan yang berhasil adalah Ramadhan yang meninggalkan jejak kebaikan—bukan hanya di hati manusia, tetapi juga di bumi tempat kita berpijak. (UKJ)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....