Belajar Filosofi Zakat dari Perumpamaan Dua Laut

  • 25 Feb 2026 11:33 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Ramadhan menjadi waktu istimewa untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak amal kebaikan, salah satunya dengan berzakat. Dalam dialog program Jendela Iman Ramadan di RRI Palu kini menghadirkan pembahasan mengenai makna zakat dari sisi spiritual dan sosial, serta perannya dalam menumbuhkan kepedulian dan solidaritas di tengah masyarakat.

Rektor UIN Datokarama Palu, Prof. Dr. KH. Lukman S Tahir, M.Ag mengajak masyarakat memahami zakat melalui pendekatan filosofis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia menggambarkan filosofi zakat melalui perumpamaan dua laut yang berasal dari sumber air yang sama, namun memiliki kondisi berbeda karena pola alirannya.

Menariknya, ia menggambarkan makna zakat melalui perumpamaan dua laut yang memiliki sumber air yang sama, yakni Laut Mati dan Laut Galilea. Menurutnya, meski berasal dari sumber air yang sama, kedua laut tersebut memiliki kondisi yang sangat berbeda karena karakter aliran airnya.

“Laut Mati hanya menerima air tanpa mengalirkannya, sehingga kadar garamnya sangat tinggi dan tidak ada kehidupan di dalamnya. Sementara Laut Galilea menerima sekaligus mengalirkan air, sehingga kehidupan tumbuh subur di sekitarnya,” ujarnya dalam dialog di studio Pro 1 RRI Palu, Minggu 22 Februari 2026.

Ia menambahkan, perumpamaan tersebut sangat relevan dengan filosofi zakat dalam kehidupan manusia. Harta yang terus ditahan tanpa dibagikan kepada yang membutuhkan diibaratkan seperti air yang mengendap, yang pada akhirnya tidak memberi manfaat sosial bahkan bisa menjadi ‘penyakit’ dalam kehidupan.

“Begitu pula manusia, jika hanya menerima rezeki tanpa berbagi, maka keseimbangan hidupnya terganggu. Zakat menjadi jalan agar harta tetap bersih, sehat, dan memberi kehidupan bagi orang lain,” ujar Rektor UIN Datokarama Palu.

Menurutnya, zakat tidak hanya berdimensi spiritual sebagai bentuk penyucian diri dari dosa dan sifat kikir, tetapi juga memiliki dampak sosial yang sangat besar. Melalui zakat, kesenjangan sosial dapat ditekan, solidaritas meningkat, serta hubungan antara golongan mampu dan kurang mampu menjadi lebih harmonis.

Zakat sendiri bermakna suci dan tumbuh, yang menunjukkan bahwa harta yang dikeluarkan tidak berkurang, melainkan berkembang dalam bentuk keberkahan. Filosofi ini seringkali bertentangan dengan logika manusia yang menganggap bahwa memberi berarti kehilangan.

“Logika zakat berbeda dengan logika matematika biasa. Apa yang dikeluarkan dengan ikhlas justru akan tumbuh, seperti benih kecil yang berkembang menjadi pohon yang besar dan bermanfaat,” tuturnya.

Di akhir dialog, Prof. Lukman mengajak masyarakat menjadikan zakat sebagai budaya hidup, bukan sekadar rutinitas tahunan. Dengan memahami filosofi zakat melalui perumpamaan dua laut, diharapkan umat tidak hanya fokus pada kewajiban ibadah vertikal, tetapi juga aktif menghadirkan kebermanfaatan sosial yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....