Kebiasaan Suku Kaili Menyambut, Mengisi, dan Mengakhiri Ramadan

  • 20 Mar 2025 16:17 WIB
  •  Palu

KBRN, Palu: Kebiasaan masyarakat muslim di Indonesia cukup beragam dalam memasuki, mengisi, dan menjalani bulan suci ramadan. Termasuk, suku Kaili yang berada di Lembah Palu, Sulawesi Tengah.

Secara garis besar ada tiga tahapan yang dilalui umat muslim di tanah Kaili berkaitan dengan hal tersebut. Yakni, dalam menyambut bulan puasa, kegiatan dalam bulan puasa, dan sesudah bulan puasa.

Sekretaris Dewan Adat Kabupaten Sigi, Atman Givulando, merinci beberapa kegiatan yang dilakukan umat muslim suku Kaili sebelum memasuki bulan suci ramadan. Seperti mandiu safa (mandi safar), modundusi dayo (ziarah kubur), mo arua (baca arwah), dan nopaanaguntu bula (mentukan awal puasa).

Kemudian, nombagogo bula (puasa lebih awal),nosulo nokulili ngata (pawai obor) dan mojama (kerja bakti).

"Kebiasaan malam bulan Ramadan, setelah ditetapkan itu biasanya kita no labe, sebuah tradisi biasa dilaksanakan H -1 Ramadan, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT, karena telah diberikan umur panjang dipertemukan dengan bulan ramadan," ucap Atman.

Sementara, dalam mengisi dan menjalani bulan Ramadan, Atman kembali merinci beberapa kegiatan. Yakni, motarawe (shalat tarwih), nelike mangande bobayana (membangunkan untuk sahur), dan mokunu atau mogoli tarawe (pertengahan puasa).

Kemudian, motunju luku (menyalakan lampu di depan ruamah), nokatue/ mokolontigi (mewarnai kuku dan kaki) dan nombaca pitara (membayar zakat fitrah).

Menutup seluruh rangkaian bulan suci Ramadan, umat muslim akan melaksanakan shalat Idulfitri di masjid ataupun lapangan terbuka yang telah ditentukan. Hal ini juga berlaku pada suku Kaili.

Setelah melaksanakan shalat Id, akan dilanjutkan dengan kumpul keluarga, biasanya di rumah orang tua. Termasuk, berkunjung kepada saudara yang paling tua, serta bersama-sama berziarah ke makam keluarga. (MUJ)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....