Keadilan VAR dan Hilangnya Romansa Klasik Piala Dunia

  • 23 Jun 2026 20:22 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, PaluKehadiran teknologi mutakhir seperti Video Assistant Referee (VAR) dan Goal-Line Technology telah mengubah wajah sepak bola modern menjadi jauh lebih mekanis dan terukur. Dalam perbincangan bersama RRI Pro 2 Palu, pengurus senior Inter Club Indonesia (ICI) Palu mengisahkan garis waktu transisi sepak bola dari era analog ke era kecerdasan buatan.

Bagi para pencinta sepak bola yang tumbuh di era 1990-an, dinamika pertandingan di masa lalu selalu identik dengan ketidakpastian dan keputusan mutlak wasit yang kerap memicu perdebatan panjang. Di zaman tersebut, ulasan pertandingan tidak didapatkan dari algoritma internet, melainkan dari halaman demi halaman tabloid olahraga cetak yang terbit mingguan.

Bahan bacaan fisik dan guntingan kliping koran menjadi barang sakral yang melahirkan loyalitas mendalam terhadap sebuah klub atau tim nasional. Namun, modernisasi sepak bola yang terjadi pada edisi Piala Dunia saat ini secara perlahan menggeser elemen-elemen klasik tersebut dan menggantinya dengan keakuratan data digital.

Pengurus ICI Palu, Angki, yang telah aktif mengamati dunia siaran sepak bola sejak Piala Dunia 1998, menilai teknologi modern memiliki dampak ganda. Di satu sisi teknologi memberikan garansi keadilan, namun di sisi lain ada aspek emosional yang perlahan terkikis dari lapangan hijau.

"Kalau kita bicara soal hitungan adil, sistem teknologi seperti VAR sekarang ini jelas jauh lebih bagus dan terukur karena bisa meminimalkan kelalaian wasit di lapangan. Tapi kalau mau jujur dari sisi dinamika, sepak bola zaman dulu itu terasa lebih menarik dan emosional justru karena adanya kontroversi-kontroversi spontan yang tidak bisa diulang oleh komputer," ujarnya.

Ia mencontohkan beberapa peristiwa kelam nan legendaris dalam sejarah Piala Dunia, seperti gol Frank Lampard ke gawang Jerman pada edisi 2010 yang tidak disahkan wasit meski bola telah melewati garis gawang. Kontroversi semacam itulah yang menurutnya menjadi bumbu penyedap sepak bola yang terus dibahas lintas generasi sepanjang sejarah.

Meski begitu, ia tidak menampik bahwa di kalangan komunitas, adopsi teknologi visual ini memicu keseruan tersendiri saat menggelar nonton bareng. Gestur wasit saat berlari menuju layar VAR di pinggir lapangan kini menjadi momen paling krusial yang mampu membuat satu ruangan menahan napas bersama.

"Sekarang kalau lagi nobar dan ada momen krusial, seluruh isi ruangan pasti refleks berteriak 'VAR! VAR!' sambil ikut meniru gerakan tangan wasit membentuk kotak. Digitalisasi ini terbukti sukses melahirkan cara baru bagi kita untuk tetap bersatu mendukung tim jagoan," tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....