Mi Nusantara, Tak Harus dari Terigu

  • 21 Sep 2026 12:00 WIB
  •  Palu
Poin Utama
  • BRMP Pascapanen Kementerian Pertanian memperkenalkan Mie Nusantara sebagai inovasi pangan berbahan baku lokal untuk mendukung diversifikasi pangan nasional.
  • Mie Nusantara diproduksi dari bahan pangan lokal seperti hanjeli, sorgum, jagung, sagu, dan ubikayu sebagai alternatif pengganti tepung terigu.
  • Inovasi ini merupakan respons terhadap kebutuhan diversifikasi pangan di Indonesia yang selama ini sangat bergantung pada impor tepung terigu.

RRI.CO.ID, Palu - Mie sudah menjadi makanan yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia. Namun, ternyata bahan pembuat mi tidak harus selalu bergantung pada tepung terigu.

Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian atau BRMP Pascapanen Kementerian Pertanian memperkenalkan Mie Nusantara. Inovasi mie berbahan pangan lokal seperti hanjeli, sorgum, jagung, sagu, dan ubikayu, sebagai alternatif untuk mendukung diversifikasi pangan.

Pengembangan mie berbahan pangan lokal menarik karena Indonesia memiliki banyak sumber karbohidrat selain gandum. Bahan-bahan tersebut tersedia di berbagai wilayah dan memiliki karakteristik masing-masing.

Sagu misalnya, telah lama menjadi bagian dari pangan masyarakat di kawasan Indonesia Timur. Sementara jagung, sorgum, ubikayu, dan hanjeli juga memiliki potensi untuk diolah menjadi berbagai produk pangan.

Melansir BRMP Pascapanen, Mie Nusantara dikembangkan dengan berbagai keunggulan sesuai bahan yang digunakan. Beberapa produk disebut memiliki kandungan serat dan nutrisi, serta jenis tertentu dapat bebas gluten.

Pengembangan tersebut juga berkaitan dengan diversifikasi pangan. Masyarakat memiliki pilihan sumber pangan yang lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada satu jenis bahan.

Bagi petani, inovasi pangan lokal juga membuka peluang permintaan terhadap hasil pertanian. Bahan yang sebelumnya dijual sebagai komoditas dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah.

Bagi pelaku UMKM, mie berbahan pangan lokal juga dapat menjadi ruang untuk menciptakan menu baru. Produk tersebut dapat dikembangkan menjadi makanan siap santap maupun produk kemasan.

Potensi ini menjadi menarik, karena makanan yang sangat familiar bagi masyarakat dapat dibuat dengan bahan yang berasal dari daerah sendiri. Dengan inovasi, pangan lokal tidak harus tampil dalam bentuk tradisional saja. (gie)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....