Bakpia dan Perjalanan Kulinernya di Indonesia
- 13 Agt 2026 14:53 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Bakpia dikenal sebagai salah satu kue yang memiliki cita rasa khas dan cukup mudah ditemukan sebagai camilan maupun oleh-oleh. Bentuknya yang kecil dengan kulit lembut dan isian manis membuat bakpia digemari berbagai kalangan. Di balik rasanya yang sederhana, bakpia ternyata memiliki perjalanan sejarah yang menarik dan berkaitan erat dengan pertemuan budaya.
Secara historis, bakpia memiliki pengaruh dari tradisi kuliner masyarakat Tionghoa. Resep dan teknik pembuatannya kemudian berkembang ketika diperkenalkan di Indonesia. Dalam proses tersebut, bakpia mengalami berbagai penyesuaian, baik dari bahan, isian, maupun cara pengolahannya, mengikuti selera dan kebiasaan masyarakat di tempat makanan ini berkembang.
Dilansir dari kebudayaan.jogja.go.id, bahwa resep bakpia dibawa oleh seorang perantau Tionghoa bernama Kwik Sun Kwok pada sekitar dekade 1940-an. Ia kemudian memulai usaha dengan menyewa tempat milik Niti Gurnito. Dari perjalanan inilah bakpia kemudian berkembang dan semakin dikenal oleh masyarakat luas.
Menariknya, bakpia yang dibawa dari tradisi kuliner Tionghoa mengalami perubahan agar dapat diterima oleh masyarakat yang lebih luas. Penggunaan bahan tertentu, termasuk minyak babi yang sebelumnya digunakan dalam pembuatan bakpia, kemudian ditinggalkan dan digantikan dengan minyak kelapa atau margarin nabati. Isian pun berkembang dan kacang hijau menjadi salah satu pilihan yang sangat populer. Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana makanan dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial, budaya, dan selera masyarakat.
Perjalanan bakpia juga memperlihatkan bahwa kuliner dapat menjadi ruang bertemunya berbagai budaya. Resep dari satu tradisi bertemu dengan bahan lokal dan selera masyarakat Indonesia, kemudian menghasilkan makanan dengan karakter yang berbeda. Dari proses tersebut, bakpia tidak hanya menjadi makanan, tetapi juga menjadi contoh nyata bagaimana akulturasi dan toleransi dapat tumbuh melalui sesuatu yang sederhana, yakni makanan.
Di Kota Palu, bakpia juga mendapatkan tempat tersendiri bagi para pecinta panganan ringan. Salah satunya Nissa, warga Kota Palu yang mengaku menyukai bakpia karena rasanya yang sederhana namun cocok dinikmati dalam berbagai suasana.
“Saya suka bakpia, apalagi yang varian kacang hijau karena ukurannya pas, rasanya manis, lembut dan garing kulitnya. Bisa dinikmati saat santai bersama keluarga, untuk teman minum kopi atau teh, bahkan sering juga dibawa sebagai oleh-oleh,” ujar Nissa.
Seiring perkembangan zaman, bakpia terus mengalami inovasi. Selain isian kacang hijau, kini tersedia berbagai pilihan rasa dan bentuk, dengan kemasan yang semakin menarik. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa makanan tradisional dapat tetap bertahan ketika mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan cerita sejarahnya. Bakpia akhirnya bukan sekadar camilan manis, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan panjang kuliner Indonesia yang mempertemukan tradisi, kreativitas, dan keberagaman budaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....