Nastar Jadi Ikon Lebaran, Ini Sejarah dan Alasannya
- 18 Mar 2026 04:23 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, PALU - Kue nastar menjadi salah satu sajian yang hampir selalu hadir di setiap rumah saat perayaan Hari Raya Idul Fitri. Menjelang Lebaran, kue kering ini mudah ditemukan di berbagai toko hingga pasar tradisional. Teksturnya yang lembut dengan isian selai nanas yang manis menjadikan nastar sebagai favorit banyak orang dari berbagai kalangan.
Nastar dikenal sebagai kue kering berbahan dasar tepung terigu, mentega, dan telur, yang dibentuk bulat kecil dengan isian selai nanas. Ciri khasnya terletak pada perpaduan rasa manis dan gurih, serta tampilannya yang mengilap berkat olesan kuning telur di bagian atas. Tak jarang, nastar juga diberi tambahan hiasan seperti keju atau cengkih untuk mempercantik tampilannya.
Meski begitu, tidak banyak yang mengetahui bahwa nastar bukanlah kue asli Indonesia. Kue ini memiliki sejarah panjang yang berasal dari masa kolonial Belanda. Nama “nastar” sendiri merupakan gabungan dari kata dalam bahasa Belanda, yaitu ananas yang berarti nanas dan taart yang berarti kue.
Pada masa Hindia Belanda, masyarakat Eropa membawa tradisi membuat kue berbahan dasar tepung dan mentega, seperti pie dan tart. Namun, karena keterbatasan bahan buah khas Eropa seperti apel dan stroberi, masyarakat lokal kemudian menggantinya dengan buah yang lebih mudah ditemukan di wilayah tropis, yakni nanas. Dari sinilah lahir kue nastar yang kini dikenal luas di Indonesia.
Menariknya, buah nanas yang menjadi ciri khas nastar juga bukan tanaman asli Nusantara. Nanas berasal dari Amerika Selatan dan dibawa oleh bangsa Portugis ke Asia, sebelum akhirnya menyebar ke Indonesia. Hal ini menjadikan nastar sebagai hasil perpaduan budaya kuliner Eropa dan adaptasi lokal yang unik.
Sejak zaman kolonial, nastar sudah dianggap sebagai kue istimewa yang hanya disajikan saat perayaan besar seperti Natal. Tradisi ini kemudian berkembang di kalangan bangsawan dan masyarakat pribumi, hingga akhirnya nastar menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan hari besar, termasuk Lebaran.
Selain faktor sejarah, ada beberapa alasan mengapa nastar tetap bertahan sebagai hidangan favorit saat Idul Fitri. Rasanya yang manis dan lembut membuatnya mudah disukai semua usia. Selain itu, nastar juga memiliki daya tahan yang cukup lama, sehingga cocok disajikan selama masa kunjungan tamu yang biasanya berlangsung beberapa hari setelah Lebaran.
Dari segi penyajian, ukuran nastar yang kecil membuatnya praktis disajikan dalam toples dan mudah dinikmati oleh tamu. Tampilan yang menarik juga menambah daya tariknya sebagai sajian khas hari raya, berdampingan dengan kue kering lain seperti kastengel dan putri salju.
Tak heran jika hingga kini nastar masih dianggap sebagai “raja” kue kering Lebaran. Lebih dari sekadar hidangan, nastar juga menyimpan cerita dan kenangan yang selalu melekat dalam setiap perayaan Idul Fitri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....