Kisah Mahasiswa Untad Jadi ‘Ojol Dadakan’ Jemput Remaja di Desa
- 18 Jul 2026 10:40 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu – Pengabdian tanpa batas ditunjukkan oleh sejumlah mahasiswa Universitas Tadulako saat menjalankan program PPK Ormawa di Desa Bale, Kabupaten Donggala. Demi memutus rantai stunting dari hulu, para mahasiswa rela bertindak sebagai tim penjemput atau ‘ojol dadakan’ bagi para remaja putri di pelosok dusun yang terpencil.
Langkah jemput bola ini diambil setelah tim mahasiswa mengevaluasi program kesehatan yang sudah ada di desa. Selama ini, pembagian Tablet Tambah Darah (TTD) oleh pihak puskesmas setempat sering kali tidak berjalan efektif. Banyak tablet zat besi yang dibagikan ke sekolah-sekolah hanya berakhir disimpan di dalam tas atau bahkan dibuang karena rasanya yang kurang disukai.
Menyadari adanya hambatan tersebut, para mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Pendidikan Kimia (Himaski) Untad memutuskan untuk mengubah strategi. Mereka memilih turun langsung ke lapangan dengan mendatangi rumah-rumah warga di lima dusun wilayah Desa Bale untuk merangkul dan mengajak para remaja putri agar mau terlibat aktif.
Dosen pendamping lapangan, Dr. Kasmudin Mustapa, M.Pd., menceritakan bagaimana antusiasme mahasiswa di lapangan saat harus merayu dan mengumpulkan anak-anak muda desa agar mau memperhatikan kesehatan diri mereka sendiri.
"Mahasiswa itu bertindak sebagai tim 'penjemput' remaja putrinya, jadi semacam 'grab dadakan'. Kita terjun ke dusun-dusun memberikan pemahaman dan mengangkut mereka untuk hadir ke Polindes agar meminum tablet tambah darah yang dibagikan gratis," ujar Kasmudin.
Uniknya, mahasiswa tidak hanya sekadar membagikan obat lalu membiarkan mereka pulang. Di lokasi berkumpul, tim mengemas kegiatan menjadi agenda interaktif dengan kampanye "minum tablet bersama secara ramai-ramai". Mahasiswa menciptakan suasana yang ceria, menyisipkan candaan, serta memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kadar hemoglobin dalam darah.
Ketua Himaski Untad, Fahraulia Putri Larama, menjelaskan bahwa mengubah metode pembagian obat menjadi sebuah kegiatan kelompok yang seru terbukti mampu melipatgandakan kepatuhan para remaja untuk mengonsumsi suplemen tersebut.
"Jadi kami berputar cara agar pendekatannya lebih efektif dengan berkumpul dan meminumnya di tempat yang sama secara ramai-ramai, sehingga suasananya jadi lebih seru," tutur Fahra.
Selain memberikan tablet penambah darah, mahasiswa juga gencar melakukan dialog dari hati ke hati mengenai bahaya pernikahan dini. Di pedesaan, pernikahan usia muda sering kali menjadi salah satu pemicu utama lahirnya anak stunting akibat ketidaksiapan fisik organ reproduksi serta kurangnya pengetahuan sang ibu muda mengenai pola asuh gizi.
Gerakan sosial yang diinisiasi oleh mahasiswa Untad ini mendapat apresiasi tinggi dari para kader Posyandu dan tokoh masyarakat Desa Bale. Kehadiran anak-anak muda yang dinamis dan penuh energi positif ini mampu menggerakkan kelompok remaja desa yang selama ini cenderung pasif dan sulit dijangkau oleh program-program kesehatan formal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....