Sering Panaskan Kelor? Ini Bahaya Kimiawi Menurut Pakar Untad

  • 18 Jul 2026 10:44 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu – Banyak masyarakat yang salah kaprah dalam mengolah sayuran lokal bergizi tinggi, seperti kelor dan bayam. Kebiasaan menghangatkan sisa sayur secara berulang demi menghemat makanan ternyata memicu kerusakan struktur kimiawi yang fatal bagi kecukupan gizi anak dan ibu hamil. Edukasi mengenai zat kimia alami dalam makanan ini kini gencar disosialisasikan di tingkat pedesaan.

Dalam program SmartEdu-NutriChem yang digelar di Desa Bale, Kabupaten Donggala, sains terapan menjadi senjata utama mahasiswa untuk membedah masalah stunting. Selama ini, intervensi stunting sering kali hanya berfokus pada pemberian bantuan makanan, tanpa memperbaiki metode pengolahannya. Padahal, kesalahan fatal di dapur bisa membuat bahan makanan paling bergizi sekalipun menjadi sia-sia.

Dosen FKIP Prodi Kimia Untad, Dr. Kasmudin Mustapa, M.Pd., mengungkapkan bahwa proses pemanasan berulang menyebabkan kandungan vitamin C dan zat besi yang esensial dalam sayuran menguap bersama uap air. Senyawa-senyawa mikro yang sangat dibutuhkan untuk mencegah anemia dan kekerdilan pada anak justru hancur sebelum sempat diserap oleh tubuh akibat suhu panas yang berlebihan.

"Tantangan kami adalah memberikan edukasi karena ada keliru di masyarakat yang menganggap semua bahan kimia itu berbahaya, padahal makanan pun tersusun dari senyawa kimia," ungkap Kasmudin.

Selain mengedukasi warga tentang teknik memasak, tim mahasiswa Untad juga mengemban misi penting untuk meluruskan stigma negatif. Di lingkungan masyarakat awam, kata "kimia" sering kali langsung dikaitkan dengan racun atau bahan berbahaya. Faktanya, seluruh nutrisi pangan yang menyehatkan tubuh tersusun dari struktur senyawa kimia alami yang baik.

Bukan hanya soal urusan dapur, penerapan ilmu kimia terapan oleh mahasiswa Untad ini juga menyentuh sektor hulu pangan di desa, yaitu pertanian. Tim mahasiswa mengamati bahwa sayuran yang ditanam warga rentan terpapar residu kimia buatan dari pupuk komersial berbahaya. Zat residu ini jika menumpuk dalam jangka panjang tentu buruk bagi kesehatan janin.

Sebagai solusinya, Himpunan Mahasiswa Pendidikan Kimia Untad memproduksi dan mendistribusikan Pupuk Organik Cair (POC) buatan sendiri kepada warga desa. Pupuk cair alami ini dirancang khusus dari limbah rumah tangga organik tanpa campuran bahan kimia sintetis berbahaya. Penggunaan POC ini diaplikasikan langsung pada kebun-kebun gizi warga desa.

Ketua Tim Pelaksana PPK Ormawa, Wisnu, menambahkan bahwa efektivitas pupuk cair buatan mahasiswa kimia ini sudah diuji langsung di lapangan dan menunjukkan hasil yang sangat memuaskan pada vegetasi pangan warga.

"Kami membawa pupuk organik cair yang sama sekali tidak mengandung zat kimia sintetis. Alhamdulillah setelah kami coba siram di kebun dusun, tanaman yang awalnya berwarna kuning bisa berubah menjadi hijau dan mekar subur," kata Wisnu.

Perubahan paradigma ini diharapkan dapat menyebar ke desa-desa tetangga di wilayah Donggala. Penerapan ilmu kimia yang membumi terbukti mampu menjembatani teori-teori rumit di laboratorium kampus menjadi solusi praktis yang menyelamatkan kesehatan generasi masa depan dari ancaman gizi buruk dan stunting.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....