Penyebab Bayi Sering Cegukan dan Cara Mengatasinya
- 30 Jun 2026 13:32 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Cegukan merupakan kondisi yang sering dialami bayi, terutama pada masa bayi baru lahir hingga beberapa bulan pertama kehidupan. Meski kerap membuat orang tua khawatir, cegukan umumnya normal, tidak berbahaya, dan akan berhenti dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan khusus.
Secara medis, cegukan terjadi akibat kontraksi mendadak pada diafragma, yaitu otot yang memisahkan rongga dada dan rongga perut serta berperan dalam proses pernapasan. Kontraksi tersebut membuat pita suara menutup cepat sehingga muncul bunyi khas "hik", sementara sistem saraf dan diafragma bayi yang belum matang membuat kondisi ini lebih sering terjadi.
Melansir Alodokter, cegukan paling sering muncul setelah bayi selesai menyusu karena selain menelan ASI atau susu formula, bayi juga dapat menelan udara. Udara yang masuk ke lambung membuat lambung mengembang, menekan diafragma, dan memicu kontraksi sehingga timbul cegukan.
| Baca juga: Mandiri tapi Sulit Intim? Ini Ciri Avoidan |
Bayi yang menyusu terlalu cepat, minum terlalu banyak, atau menangis cukup lama juga lebih mudah mengalami cegukan karena lebih banyak udara masuk ke saluran pencernaan. Pada sebagian bayi, cegukan dapat terjadi beberapa kali sehari, namun selama bayi tetap nyaman, aktif, dan mau menyusu dengan baik, kondisi tersebut umumnya tidak perlu dikhawatirkan.
Saat bayi mengalami cegukan, orang tua sebaiknya tetap tenang karena kepanikan justru dapat membuat bayi ikut merasa tidak nyaman. Sebagian besar cegukan akan berhenti sendiri dalam beberapa menit setelah diafragma kembali rileks sehingga tidak perlu terburu-buru mencari cara menghentikannya.
Salah satu cara yang dianjurkan adalah menyendawakan bayi setelah menyusu dengan menggendongnya dalam posisi tegak sambil menopang kepala dan leher, kemudian menepuk atau mengusap punggungnya secara perlahan. Cara tersebut membantu mengeluarkan udara yang terperangkap di lambung sehingga tekanan pada diafragma berkurang dan cegukan lebih cepat mereda.
Orang tua juga dapat memberi jeda di sela-sela proses menyusui apabila bayi tampak menyusu terlalu cepat atau sangat lahap agar bayi memiliki kesempatan untuk bersendawa. Posisi menyusui juga perlu diperhatikan dengan menjaga kepala bayi sedikit lebih tinggi dari tubuhnya, sementara penggunaan botol susu sebaiknya disertai dot.
Orang tua tidak dianjurkan memberikan air putih, makanan tambahan, atau menggunakan cara-cara tradisional yang belum terbukti aman hanya untuk menghentikan cegukan. Pada bayi berusia di bawah enam bulan, ASI tetap menjadi makanan terbaik dan cairan lain hanya boleh diberikan atas anjuran tenaga kesehatan.
Meskipun umumnya tidak berbahaya, cegukan perlu diwaspadai apabila berlangsung berjam-jam atau terjadi terus-menerus selama beberapa hari. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan lain sehingga bayi perlu segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan. (SA)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....