Jangan Takut ke Dokter Gigi! Mitos Cabut Gigi Bikin Buta Dipastikan Tidak Benar
- 28 Mei 2026 13:22 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Ketakutan masyarakat untuk pergi ke dokter gigi masih menjadi tantangan dalam menjaga kesehatan mulut dan gigi. Salah satu penyebabnya adalah beredarnya mitos bahwa cabut gigi dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kebutaan. Padahal, secara medis informasi tersebut tidak benar.
Dokter Gigi I Wayan Sumadiyasa menegaskan, bahwa hingga saat ini tidak ada bukti medis yang menyatakan pencabutan gigi dapat menyebabkan seseorang menjadi buta. Menurutnya, justru gigi yang bermasalah dan dibiarkan tanpa penanganan dapat memicu infeksi yang menyebar ke organ tubuh lainnya.
“Gigi yang sakit atau infeksi jika dibiarkan terlalu lama bisa memengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Karena itu masyarakat tidak perlu takut untuk memeriksakan gigi ke dokter,” ujarnya.
| Baca juga: Behel Bukan Sekadar Tren Estetika |
Ia menjelaskan, pemeriksaan gigi secara rutin sangat penting dilakukan minimal enam bulan sekali untuk mencegah kerusakan gigi menjadi lebih parah. Pemeriksaan rutin juga membantu mendeteksi masalah sejak dini sehingga penanganannya lebih mudah dan tidak menimbulkan rasa sakit berlebihan.
Selain orang dewasa, ketakutan terhadap dokter gigi juga sering dialami anak-anak. Menurutnya , peran orang tua sangat penting dalam membangun pengalaman positif anak terhadap perawatan gigi sejak dini.
Orang tua disarankan mulai mengenalkan sikat gigi sejak anak masih kecil dengan cara yang menyenangkan. Penggunaan pasta gigi khusus anak yang aman tertelan juga dapat membantu anak lebih nyaman saat belajar menyikat gigi.
“Yang paling penting, jangan menakut-nakuti anak dengan dokter gigi. Misalnya mengatakan ‘kalau nakal nanti disuntik dokter gigi’. Hal seperti itu justru membuat anak trauma,” jelasnya.
Di klinik gigi sendiri, pendekatan ramah anak terus diterapkan agar anak merasa aman dan nyaman. Salah satu metode yang digunakan adalah pendekatan “modeling” dan “tell-show-do”.
Pendekatan modeling dilakukan dengan memperlihatkan contoh anak lain yang berani menjalani pemeriksaan gigi. Sementara metode tell-show-do dilakukan dengan cara menjelaskan alat dan tindakan terlebih dahulu, memperlihatkannya kepada anak, lalu baru melakukan tindakan secara perlahan.
Dengan edukasi yang tepat, masyarakat diharapkan tidak lagi percaya pada mitos seputar kesehatan gigi dan lebih rutin melakukan pemeriksaan demi menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....