Minum Antibiotik Harus Tuntas, Ini Dampak jika Diabaikan
- 22 Apr 2026 21:44 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu – Kesadaran masyarakat dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran masih menjadi perhatian, terutama terkait kebiasaan menghentikan obat saat kondisi tubuh sudah terasa membaik. Padahal, tidak semua jenis obat boleh dihentikan sebelum waktu yang ditentukan, khususnya antibiotik yang memiliki aturan penggunaan ketat.
Apt. Ahmad Anggara Sadewa, S.Farm, saat hadir di PRO 2 RRI Palu menjelaskan bahwa keputusan untuk menghentikan obat tidak bisa hanya berdasarkan perasaan sudah sembuh. Hal tersebut sangat bergantung pada jenis obat yang dikonsumsi serta tujuan terapi yang sedang dijalani oleh pasien dalam proses pengobatan.
Ia menegaskan bahwa antibiotik merupakan salah satu jenis obat yang wajib dikonsumsi hingga habis sesuai anjuran tenaga medis. Penggunaan antibiotik yang tidak tuntas berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kondisi kesehatan, terutama dalam melawan infeksi bakteri di dalam tubuh.
| Baca juga: Anemia dan Hipotensi Jangan Disamakan Lagi |
“Antibiotik itu harus diminum sampai habis, tidak boleh setengah-setengah. Kalau tidak dihabiskan, bakteri dalam tubuh bisa menjadi lebih kuat dan kebal terhadap obat,” jelasnya.
Menurutnya, kebiasaan menghentikan antibiotik sebelum waktunya dapat menyebabkan penyakit kembali kambuh. Hal ini sering terjadi di masyarakat, di mana pasien merasa sudah sembuh, kemudian menghentikan obat, namun beberapa waktu kemudian penyakit kembali muncul dan membutuhkan pengobatan ulang.
Lebih lanjut, Angga sapaan akrabnya mengingatkan adanya risiko resistensi obat yang dapat terjadi akibat penggunaan antibiotik yang tidak sesuai aturan. Kondisi ini membuat bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik, sehingga pengobatan di masa depan menjadi lebih sulit dan membutuhkan jenis obat yang lebih kuat.
Ia bahkan menyebut resistensi antibiotik sebagai ancaman serius di masa depan. Jika terus terjadi, bukan tidak mungkin berbagai jenis antibiotik yang ada saat ini menjadi tidak lagi efektif dalam mengatasi infeksi bakteri yang menyerang manusia.
Kebiasaan masyarakat yang sering membeli obat secara bebas di kios atau warung tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan. Menurutnya, praktik ini berisiko karena masyarakat tidak mendapatkan informasi yang jelas terkait dosis, aturan pakai, hingga keamanan obat yang dikonsumsi.
“Kalau beli di apotek, kita bisa tanya langsung tentang obatnya, cara pakainya, dan lebih aman karena penyimpanannya juga diperhatikan,” imbuhnya.
Melalui edukasi ini, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menggunakan obat, tidak menghentikan pengobatan secara sepihak, serta selalu mengikuti anjuran tenaga medis demi menjaga kesehatan secara optimal dan mencegah risiko jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....