Memaafkan Baik untuk Kesehatan Mental

  • 03 Mar 2026 09:03 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Dari sudut pandang neurosains, memaafkan berkaitan erat dengan kesehatan mental seseorang. Proses ini memengaruhi cara otak mengelola stres dan emosi negatif. Respons biologis tubuh terhadap kemarahan ternyata tidak sederhana. Ada mekanisme saraf dan hormonal yang bekerja di baliknya.

Dilansir dari laman Instagram @santi_psychiatrist, ketika seseorang menyimpan dendam, otak cenderung terjebak dalam ruminasi berkepanjangan. Ruminasi adalah kebiasaan mengulang kejadian menyakitkan secara terus-menerus dalam pikiran. Pola ini membuat luka emosional terasa seperti masih berlangsung. Akibatnya, otak membaca ingatan itu sebagai ancaman aktif.

Dalam kondisi tersebut, amigdala menjadi lebih aktif mendeteksi bahaya emosional. Sistem saraf kemudian mengaktifkan respons fight-or-flight secara otomatis. Hipotalamus memicu kelenjar adrenal melepaskan hormon stres kortisol. Tubuh bersiap menghadapi ancaman meski ancaman itu hanya berupa ingatan.

Jika respons ini terjadi terus-menerus, kadar kortisol bisa tetap tinggi secara kronis. Kondisi tersebut berisiko memicu gangguan tidur dan meningkatkan kecemasan. Sistem imun dapat melemah akibat paparan stres berkepanjangan. Bahkan risiko depresi dan tekanan darah tinggi ikut meningkat.

Memaafkan membantu menurunkan aktivasi sistem stres dalam tubuh. Produksi kortisol berangsur menurun ketika pikiran tidak lagi dipenuhi kemarahan. Sistem saraf parasimpatik mulai mengambil peran untuk menenangkan tubuh. Tubuh masuk ke mode pemulihan yang lebih stabil.

Saat seseorang memilih memaafkan, aktivitas prefrontal cortex meningkat signifikan. Area ini berperan dalam pengambilan keputusan dan regulasi emosi. Sebaliknya, aktivitas amigdala perlahan menurun sehingga respons emosional lebih terkendali. Regulasi emosi menjadi lebih sehat dan terarah.

Memaafkan bukan berarti menekan atau mengabaikan rasa sakit yang dialami. Proses ini adalah bentuk pengelolaan respons emosional secara sadar. Fokusnya bukan pada pelaku, melainkan pada kesejahteraan diri sendiri. Pada akhirnya, memaafkan adalah langkah untuk menjaga kesehatan mental pribadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....