Mengelola Emosi saat Hadapi Lingkungan Toxic
- 18 Feb 2026 20:46 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu — Kesadaran bahwa seseorang berada dalam lingkungan yang tidak sehat sering kali datang bersamaan dengan kesadaran lain: emosi belum sepenuhnya terkendali. Kondisi ini membuat banyak orang bingung menentukan langkah, terutama ketika lingkungan tersebut tidak mudah ditinggalkan, seperti tempat kerja.
Psikolog Husnul Khatimah menjelaskan bahwa kesadaran terhadap keterbatasan dalam mengelola emosi justru bisa menjadi titik awal untuk mengambil langkah yang lebih bijak. Dalam dialog edukatif di Program Sore Ceria PRO 2 RRI Palu di Palu, ia menekankan bahwa keluar dari lingkungan Toxic tidak selalu berarti meninggalkan tempat tersebut secara permanen.
“Ketika kita sadar belum bisa memanajemen emosi, langkah awal yang bisa dilakukan adalah mengambil jarak sementara. Tidak semua lingkungan bisa langsung ditinggalkan, apalagi jika berkaitan dengan pekerjaan atau tanggung jawab yang tidak bisa dilepas begitu saja,” ujarnya.
Menurut Husnul, banyak orang mengira solusi satu-satunya adalah keluar sepenuhnya dari lingkungan yang dianggap Toxic. Padahal, dalam praktiknya, tidak semua situasi memungkinkan keputusan drastis tersebut. Seseorang mungkin merasakan tekanan emosional, tetapi tidak bisa langsung mengundurkan diri karena pertimbangan finansial, tanggung jawab, atau rencana jangka panjang.
“Menghindari lingkungan Toxic bisa dilakukan dengan cara mengambil jeda, menenangkan diri, dan memberi ruang bagi pikiran untuk lebih jernih. Itu langkah realistis ketika kita belum bisa meninggalkan situasi secara permanen,” jelasnya.
Lebih lanjut, Husnul menekankan pentingnya mempertimbangkan konsekuensi sebelum mengambil keputusan besar. Keputusan meninggalkan lingkungan tertentu perlu didasari pertimbangan matang, bukan semata dorongan emosional sesaat.
“Setiap keputusan pasti ada konsekuensinya. Sebelum memutuskan keluar, perlu dipikirkan apakah kita siap menghadapi dampaknya dan bagaimana kondisi kita ke depan,” katanya.
Pendekatan ini, lanjutnya, membantu seseorang membangun perspektif jangka panjang. Dengan begitu, langkah yang diambil bukan sekadar reaksi terhadap tekanan, tetapi hasil dari pertimbangan yang sadar dan terencana.
Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan mengelola emosi berkembang melalui proses. Kesadaran diri, refleksi, dan pengambilan jarak sementara dapat menjadi strategi awal untuk menjaga keseimbangan psikologis.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....