Capai Rp127T, Sulteng Tempati Posisi Kelima Investasi Nasional
- 20 Jan 2026 19:05 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu – Sulawesi Tengah (Sulteng) berhasil menempati posisi kelima sebagai provinsi dengan realisasi investasi terbesar secara nasional. Sepanjang Januari–Desember 2025, realisasi investasi di provinsi ini tercatat mencapai Rp127 triliun.
Capaian tersebut menjadikan Sulteng sebagai provinsi di luar Pulau Jawa dengan realisasi investasi tertinggi di Indonesia.
“(Investasi) kita masuk lima besar nasional, dan tertinggi di luar Pulau Jawa,” kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sulawesi Tengah Moh. Rifani, di Palu, Selasa, 20 Januari 2025.
Rifani mengungkapkan, selain menempati lima besar nasional dalam realisasi investasi, Sulteng juga berada di posisi pertama untuk investasi hilirisasi dengan nilai mencapai Rp110 triliun.
Meski demikian, Rifani menyebut capaian tersebut belum memenuhi target nasional yang ditetapkan sebesar Rp160 triliun.
“Jadi, walaupun kita tidak mencapai target, tetapi Sulawesi Tengah itu berada di nomor satu untuk hilirisasi,” ujar Eks Penjabat Bupati Donggala itu.
Dia bilang, dari total realisasi investasi tahun 2025, sebagian besar masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp119 triliun. Sementara Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) hanya berkontribusi sebesar Rp7,9 triliun.
“Untuk PMDN kita memang masih perlu dimaksimalkan lagi. Namun untuk PMA, kita masuk dua besar nasional. Setelah Jawa Barat, kita berada di posisi kedua,” sebut Rifani.
DPMPTSP Sulawesi Tengah mencatat, sektor unggulan PMA didominasi industri logam dasar sebesar Rp92,2 triliun, disusul industri kimia dan farmasi Rp10,3 triliun, serta sektor pertambangan Rp7,4 triliun.
Sementara untuk PMDN, sektor pertambangan berkontribusi sebesar Rp3,6 triliun, diikuti sektor listrik, gas, dan air sebesar Rp1,6 triliun, serta perdagangan dan reparasi sebesar Rp866 miliar.
Berdasarkan sebaran wilayah, Kabupaten Morowali masih menjadi penyumbang terbesar realisasi investasi di Sulawesi Tengah dengan nilai Rp110,5 triliun.
“Morowali mendominasi, kemudian disusul Morowali Utara sebesar Rp9,7 triliun, dan Kabupaten Banggai Rp3 triliun,” bebernya.
Adapun negara penyumbang investasi terbesar di Sulteng yakni Hong Kong sebesar Rp52,3 triliun, disusul Singapura Rp32,6 triliun, dan Tiongkok Rp28,6 triliun.
Selain berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, realisasi investasi tersebut juga menyerap sebanyak 31.271 tenaga kerja Indonesia. Sektor industri logam dasar tercatat menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan jumlah mencapai 12.646 orang.
Terkait tidak tercapainya target realisasi investasi tahun 2025, Rifani menjelaskan hal tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya kondisi harga komoditas global, khususnya nikel.
“Yang pertama itu komoditas. Turunnya komoditas, terus turunnya komoditas nikel dunia dan kondisi oversupply (kelebihan pasokan). Oversupply yang membuat investor menunda ekspansi karena margin keuntungan yang menipis,” jelasnya.
Selain faktor komoditas, Rifani menyebut regulasi juga turut memengaruhi, salah satunya kebijakan pemerintah melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025 yang menghentikan sementara pembangunan smelter dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
“Jadi untuk hilirisasi nikel tahap dua, seperti nikel pig iron dan ferronikel, itu distop dulu,” ungkapnya.
“Kemudian persoalan internal daerah terkait sengketa lahan kronis, lemahnya kepatuhan pelaporan LKPM (Laporan Kegiatan Penanaman Modal), serta infrastruktur yang rusak akibat aktivitas tambang. Jadi banyak (faktornya),” sambung Rifani.
Dengan berbagai tantangan tersebut, Rifani berharap target realisasi investasi Sulawesi Tengah pada 2026 dapat disesuaikan.
“Kita berharap target yang terlalu tinggi itu mungkin bisa disesuaikan dengan kemampuan daerah,” kata Rifani.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....