Ukuran Mampu Berkurban Menurut Syariat Islam

  • 31 Mei 2025 10:44 WIB
  •  Palu

KBRN, Palu: Ibadah kurban merupakan salah satu ibadah mulia yang sangat dianjurkan bagi umat Islam. Sebagai bentuk ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT, berkurban dilakukan pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyrik. Namun, tidak semua orang dibebani kewajiban ini. Hanya mereka yang “mampu” yang disunnahkan melaksanakannya.

Namun, pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat adalah: siapa saja yang sebenarnya tergolong mampu untuk berkurban? Apakah hanya orang kaya? Apakah boleh berkurban dengan berutang? Artikel ini akan membahas batasan dan ukuran seseorang dianggap mampu untuk berkurban menurut pandangan syariat Islam,

Lalu, apa sebenarnya ukuran seseorang dianggap mampu untuk berkurban?

1. Memiliki Kelebihan Rezeki dari Kebutuhan Pokok

Seseorang dikatakan mampu berkurban apabila memiliki harta atau penghasilan yang lebih setelah mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk makan, tempat tinggal, pakaian, dan keperluan penting lainnya pada hari-hari Idul Adha dan setelahnya. Jika berkurban justru membuat seseorang kekurangan untuk kebutuhan pokoknya, maka ia tidak tergolong orang yang wajib atau dianjurkan berkurban.

2. Tidak Mengandalkan Utang untuk Berkurban

Islam tidak menganjurkan seseorang berkurban dengan cara berutang, kecuali ia tahu pasti bahwa ia bisa segera melunasinya tanpa menimbulkan kesulitan. Berkurban harus dilakukan dengan tenang, ikhlas, dan tanpa memaksakan diri.

3. Cukup untuk Satu Keluarga

Dalam satu rumah, cukup satu orang yang berkurban atas nama dirinya dan keluarganya. Misalnya, seorang kepala keluarga yang memiliki kelebihan harta, dapat berkurban dan diniatkan atas nama seluruh anggota keluarga dalam tanggungannya.

Ustadz Yanwar, seorang ustadz muda yang aktif memberikan kajian di Masjid Agung Baiturrahim Lolu, Palu, menanggapi pertanyaan soal ukuran mampu untuk berkurban:

“Ukuran mampu dalam kurban itu bukan harus kaya raya. Selama seseorang punya rezeki lebih dari kebutuhan pokoknya dan bisa beli hewan kurban tanpa menyulitkan diri, maka ia sudah dianggap mampu. Jangan tunggu jadi jutawan dulu untuk bisa berkurban.” Ujarnya kepada RRI

Lebih lanjut, beliau menambahkan:“Kadang ada orang merasa tidak mampu padahal dalam sebulan bisa nongkrong, ngopi mahal, bahkan beli hal yang tidak terlalu penting. Tapi saat kurban datang, merasa keberatan. Ini bukan soal bisa atau tidak, tapi soal niat dan prioritas.”

Ibadah kurban bukanlah beban, tetapi peluang untuk menunjukkan ketulusan dan rasa syukur atas nikmat rezeki. Islam tidak memaksakan ibadah ini kepada yang belum mampu, tapi sangat menganjurkan bagi mereka yang diberi kelapangan.

Jika kita bisa menyisihkan sedikit demi sedikit sejak awal tahun, maka insya Allah ketika Idul Adha tiba, kita siap menjadi bagian dari umat yang berkurban. (AL)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....