Mural vs Vandalisme: Seniman Palu Tagih Ruang Ekspresi Publik
- 26 Jun 2026 05:49 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu — Komunitas Palu Mural Festival mengajak masyarakat untuk membedakan karya mural dengan aksi vandalisme melalui kegiatan festival dan diskusi yang digelar di kawasan Roviga, Kota Palu. Kegiatan tersebut bertujuan mengubah stigma bahwa seluruh seni jalanan identik dengan tindakan merusak fasilitas umum.
Dalam sesi diskusi, kolektif Palu Mural Festival menjelaskan perbedaan antara aksi vandalisme dan karya mural. Menurut mereka, aksi vandalisme di ruang publik antara lain dipengaruhi oleh minimnya ruang berekspresi bagi anak muda.
Ketika energi kreatif tidak memiliki wadah atau fasilitas yang legal, dinding-dinding fasilitas umum di jalanan protokol sering kali menjadi pelampiasan tanpa konsep. Kehadiran festival mural komunal seperti yang digelar di kawasan Roviga menjadi salah satu metode pembuktian yang konkret.
Seniman mural, Narco, menegaskan bahwa ada perbedaan mendasar pada proses eksekusi di lapangan antara pelaku mural terstruktur dan pelaku vandalisme. Mural jalanan yang sesungguhnya selalu melibatkan perencanaan konsep yang matang, estetika yang terukur, hingga komunikasi sosial dengan lingkungan sekitar.
"Palu Mural Festival ini adalah contoh nyata bagaimana kami mengedukasi publik tentang seni dinding yang sehat," tutur Narco.
Langkah taktis yang digagas oleh komunitas yang awalnya berpusat di Rumah Hutan Rupadi ini perlahan mulai membuahkan hasil. Dalam beberapa tahun terakhir, karya mural di Kota Palu sudah mulai bergeser ke arah industri komersial, di mana para seniman mulai dilibatkan untuk mempercantik kafe, perkantoran, hingga penataan estetika kota oleh pemerintah daerah.
Sinergi yang mulai terbangun di beberapa titik kota seperti kawasan Jalan Kartini menjadi bukti bahwa street art mampu menambah nilai estetika lanskap perkotaan. Komunitas berharap ruang-ruang legal seperti ini terus diperbanyak agar potensi pemuda tidak terbuang sia-sia pada aksi merusak.
"Seni jalanan itu esensinya mempercantik ruang publik yang mati, bukan merusak fasilitas yang aktif. Ketika pemerintah mulai melirik dan memfasilitasi, di situlah stigma negatif perlahan runtuh dan berubah menjadi kebanggaan kota yang bernilai ekonomi kreatif tinggi," tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....