Situs Megalitikum Sulteng Hidup Kembali lewat Seni Mural Modern

  • 24 Jun 2026 13:16 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu — Jajaran batu purba warisan leluhur Sulawesi Tengah yang sarat akan nilai sejarah kini tidak lagi sekadar menjadi objek statis di situs purbakala. Melalui tangan-tangan kreatif para seniman jalanan di Kota Palu, warisan peradaban ribuan tahun lalu tersebut bertransformasi menjadi karya seni visual modern yang memukau di ruang publik.

Dalam program 'Jaga Malam' di RRI Pro 2 Palu, kolektif seniman Palu Mural Festival 2026 memaparkan proyek terbaru mereka yang bertajuk "Contemporary Megalithic Art". Proyek ini sengaja diinisiasi untuk menjembatani dua lini masa yang berbeda: eksotisme masa lalu dan dinamika estetika modern hari ini.

Sebagai medianya, mereka memanfaatkan dinding-dinding terbengkalai di Kawasan Roviga, Tondo. Sebanyak 15 muralis lokal berkumpul dan menyulap gedung kosong yang awalnya kumuh menjadi galeri visual terbuka yang menceritakan kembali asal-usul sejarah lokal secara ekspresif.

Salah satu konseptor festival, Muhammad Saifullah yang akrab disapa Narco, menjelaskan bahwa perpaduan ini merupakan strategi taktis dalam mengedukasi generasi digital. Seni visual dinilai sebagai media yang paling ramah dan mudah diterima oleh anak muda lintas usia.

"Megalitik itu adalah identitas dan akar sejarah kita di Sulawesi Tengah, sementara kontemporer itu adalah bahasa visual anak muda zaman sekarang. Kami mencoba menyatukan dua dunia ini agar generasi milenial dan Gen Z di Palu tertarik untuk melirik, membaca, dan kembali bangga dengan warisan budaya leluhur mereka sendiri," ujar Narco di RRI Palu.

Narco yang juga merupakan seniman otodidak ini menambahkan bahwa setiap muralis diberikan kebebasan penuh untuk menginterpretasikan tema tersebut sesuai dengan ciri khas karakter gaya mereka masing-masing. Ada yang memadukan gambar patung batu purba dengan corak semesta, hingga bentuk-bentuk abstrak yang futuristik.

Melalui gerakan swadaya yang didanai dari donasi publik ini, Palu Mural Festival 2026 berharap media edukasi alternatif seperti ini bisa terus tumbuh. Mereka ingin menunjukkan bahwa sejarah tidak selamanya harus dipelajari lewat buku-buku tebal yang membosankan di dalam ruang kelas.

"Karya seni jalanan seperti mural ini punya kekuatan besar sebagai media edukasi visual yang inklusif. Dari anak kecil sampai orang dewasa bisa langsung menikmati dan menangkap pesannya tanpa sekat, sehingga pengenalan sejarah daerah bisa berjalan lebih natural di tengah masyarakat," pungkas Narco.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....