Uta Dada Desa Balane Menjaga Warisan Kuliner Kaili

  • 25 Jun 2026 10:18 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Sigi - Di tepian sungai Desa Balane, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, sebuah pondok bambu sederhana berdiri di kawasan yang dikenal sebagai Bendungan Misterius. Tempat ini bukan sekadar menjadi lokasi melepas penat bagi pengunjung atau tempat mengais rezeki bagi penambang pasir tradisional. Lebih dari itu, di pondok inilah sepotong warisan budaya kuliner khas suku Kaili bernama Uta Dada dengan rasa ayam kampung yang lezat , santannya gurih dan dipadukan dengan ketupat ini terus dijaga dan dilestarikan agar tidak punah ditelan zaman.

Adalah Ibu Laila, sosok perempuan tangguh di balik kelezatan Uta Dada yang kini semakin dikenal luas oleh masyarakat. Setiap hari, sebelum mentari meninggi, ia sudah sibuk meracik rempah-rempah di dapur rumahnya. Ibu Laila sengaja memasak seluruh hidangan di rumah terlebih dahulu untuk menjaga kualitas rasa, sebelum akhirnya dibawa menggunakan wadah ke pondok bambu tepi sungai tersebut untuk dijajakan kepada para pelanggan.

Bagi Laila, mempertahankan cita rasa asli Uta Dada merupakan sebuah tanggung jawab moral untuk merawat warisan keluarga yang turun-temurun. Kuliner tradisional berkuah santan ini membutuhkan ketelitian tinggi serta kesabaran dalam mengolah bumbu agar menghasilkan rasa pedas gurih yang pas. Keaslian rasa inilah yang menjadi senjata utamanya dalam bertahan di tengah gempuran tren kuliner modern saat ini.

Usaha kuliner yang dirintis Laila ini awalnya memiliki cerita yang sangat bersahaja. Pada masa-masa awal, ia hanya berniat menyediakan makanan pengisi perut bagi para pekerja penambang pasir tradisional yang sedang beristirahat di sekitar sungai. Namun karena kelezatannya yang memikat lidah, kabar mengenai warung pondok bambu ini menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut hingga memikat perhatian wisatawan.

Kini, Bendungan Misterius tidak hanya menawarkan keindahan panorama alam yang asri, tetapi juga pengalaman wisata kuliner yang autentik. Pengunjung yang datang kini tidak lagi didominasi oleh warga lokal atau pekerja tambang, melainkan juga pelancong dari berbagai daerah di luar Kabupaten Sigi. Mereka sengaja datang untuk menikmati sepiring Uta Dada hangat ditemani suara gemericik air sungai yang mengalir menenangkan.

Melihat potensi wisata yang kian berkembang, Ibu Laila menaruh harapan besar pada kemajuan infrastruktur di desanya demi mendukung para pelaku usaha kecil.

"Saya sangat berharap pemerintah bisa memperbaiki akses jalan ke Bendungan Misterius ini dan memberikan bantuan pelatihan bagi UMKM," ujar Ibu Laila saat ditemui di pondok bambunya Senin (22/06).

Menurutnya, akses jalan yang mulus akan membuat pengunjung semakin nyaman dan mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar. Melalui sepiring Uta Dada yang disajikan setiap hari, Laila telah membuktikan bahwa keterbatasan tempat bukanlah penghalang untuk merawat identitas budaya. Harapan terbesarnya adalah agar kuliner khas Kaili ini tetap hidup dan digemari oleh generasi muda. Dari sebuah pondok bambu sederhana di tepi sungai Balane, kisah ketekunan dan cinta terhadap tradisi ini akan terus mengalir bersama waktu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....