Miliki Potensi Pangan, Tanaman Kelor Diolah jadi Produk Bernilai Ekonomi Tinggi
- 15 Sep 2026 13:00 WIB
- Palu
Poin Utama
- Tanaman kelor berkembang sebagai potensi pangan lokal unggulan di Kota Palu, Sulawesi Tengah dengan nilai ekonomi yang terus meningkat.
- Kelor tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan makanan tetapi juga diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi yang memiliki daya jual.
- Masrudin Pasau merupakan salah satu pelaku usaha yang aktif mengembangkan tanaman kelor setelah pensiun dan menemukan peluang bisnis baru.
RRI.CO.ID, Palu - Tanaman kelor menjadi salah satu potensi pangan lokal yang terus dikembangkan di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan makanan, kelor kini diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
Salah satu pelaku yang mengembangkan budidaya kelor adalah Masrudin Pasau. Ia memiliki kebun kelor di Jalan Karanjalembah, Kota Palu, dengan lebih dari 1.000 pohon yang menjadi bahan baku berbagai produk olahan.
Masrudin mulai menekuni budidaya kelor pada 2021 setelah melihat potensi tanaman tersebut di Kota Palu. Menurutnya, kelor mampu tumbuh dengan baik dan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai usaha.
“Setelah beberapa bulan pensiun tahun 2021, saya langsung mulai tanam kelor. Karena di Kota Palu ini kelor tumbuhnya bagus dan memang cocok dikembangkan,” ujar Masrudin saat ditemui di kebun kelornya.
Tanaman kelor dapat mulai dipanen sekitar tiga bulan setelah ditanam. Setelah dipanen, daun dipisahkan dari tangkai dan dicuci. Setelah itu, dikeringkan menggunakan oven selama sekitar 20 hingga 24 jam.
Proses pengeringan menjadi salah satu tahapan penting dalam menghasilkan bahan baku kelor. Dari sekitar empat kilogram daun kelor segar, dapat diperoleh sekitar satu kilogram daun kelor kering setelah kadar air berkurang.
Daun kelor kering selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai produk sesuai kebutuhan pasar. Produk tersebut antara lain teh kelor, sabun, kosmetik, minuman, saraba kelor hingga berbagai olahan pangan lainnya.
“Setelah diolah menjadi bahan baku kering, kelor ini bisa diproduksi menjadi teh kelor, sabun, kosmetik, minuman sampai saraba kelor,” ucap Masrudin.
Saat ini, produksi bahan baku kelor dari kebunnya berkisar 40 hingga 50 kilogram per bulan. Kapasitas tersebut masih dapat ditingkatkan hingga sekitar 100 kilogram apabila permintaan pasar terus bertambah.
Selain menghasilkan produk olahan, budidaya kelor tersebut juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar yang terlibat dalam proses panen dan pengolahan. Masrudin berharap, dukungan pemasaran dapat membantu produk kelor asal Palu semakin dikenal di pasar nasional hingga internasional. (Tien')
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....