Akademisi Turun Dapur, Lestarikan Nasi Kuning Tiga Generasi

  • 17 Agt 2026 16:14 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Pendidikan tinggi tidak selalu harus berujung pada pekerjaan di balik meja atau ruang perkantoran. Bagi Renaldi Anugerah, S.Ip., M.Sos., ilmu yang diperoleh hingga jenjang magister justru menjadi bekal untuk terus berkarya sekaligus melestarikan usaha kuliner keluarga yang telah diwariskan selama tiga generasi.

Renaldi yang sehari-hari berprofesi sebagai dosen, memilih turun langsung ke dapur dan meneruskan usaha nasi kuning milik keluarganya. Usaha yang dikenal dengan nama Nasi Kuning Jadul Renaldy Anugerah tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sekaligus bentuk nyata kecintaannya terhadap kuliner tradisional.

Keputusan itu sempat mendapat cibiran dari sebagian orang di sekitarnya. Setelah menyelesaikan pendidikan S2 di Jawa, Renaldi justru kembali dan memilih berjualan nasi kuning, sebuah pilihan yang menurutnya tidak perlu dipandang sebelah mata hanya karena berbeda dari ekspektasi masyarakat terhadap seseorang yang telah menyandang gelar akademik.

Menurut Renaldi, pendidikan pada hakikatnya bukan semata-mata untuk mengejar pekerjaan dengan jabatan tertentu. Pendidikan justru memberikan kemampuan kepada seseorang untuk membedakan mana yang baik dan benar serta menentukan pilihan hidup secara bijaksana.

“Hakikat pendidikan itu bagaimana kita bisa membedakan mana yang baik dan benar. Kalau pekerjaan, menurut saya itu bonus,” ujar Renaldi Anugerah saat diwawancara diprogram Kataua Ntodea di PRO 4 RRI Palu.

Ia menegaskan, tidak ada alasan bagi seseorang untuk merasa malu menjalankan pekerjaan yang halal, termasuk berdagang. Baginya, aktivitas berdagang bukan hanya berkaitan dengan mencari penghasilan, tetapi juga menjadi bagian dari menjalankan sunah dan membangun kemandirian.

Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, Renaldi tetap berupaya menjaga cita rasa dan tradisi nasi kuning yang diwariskan keluarganya. Ia berharap generasi muda tidak meninggalkan usaha kuliner tradisional hanya karena menganggap pekerjaan tersebut kurang bergengsi dibandingkan profesi lainnya.

Dia menilai, warisan kuliner bukan sekadar resep makanan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di dalamnya terdapat cerita keluarga, nilai kerja keras, serta identitas budaya yang perlu dipertahankan agar tetap dikenal oleh masyarakat di tengah perkembangan kuliner modern.

Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain ketika memilih jalan hidup. Selama pekerjaan tersebut dilakukan dengan cara yang baik, halal, dan memberikan manfaat bagi keluarga maupun masyarakat, setiap pekerjaan memiliki nilai dan kehormatan tersendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....