Mengenal Rumah Tambi, Warisan Adat Sulawesi Tengah

  • 31 Jul 2025 18:11 WIB
  •  Palu

KBRN, Palu:Rumah Tambi merupakan salah satu warisan arsitektur tradisional khas Sulawesi Tengah yang berasal dari kebudayaan suku Lore, yang mendiami wilayah Poso dan sekitarnya. Meski bentuk fisiknya kini mulai langka, nilai filosofis dan identitas kultural yang melekat pada rumah ini tetap menjadi kebanggaan masyarakat adat setempat.

Tambi bukan sekadar bangunan tempat tinggal, tetapi merupakan simbol status sosial, pusat aktivitas keluarga, bahkan juga menjadi tempat peribadatan dalam komunitas. Rumah adat ini mencerminkan cara hidup masyarakat Lore yang dekat dengan alam, spiritualitas, dan keteraturan sosial yang diwariskan turun-temurun.

Arsitektur Tambi berbentuk panggung dengan dasar persegi empat dan atap berbentuk limas curam. Konstruksinya dibangun menggunakan bahan-bahan alami seperti kayu, bambu, dan ijuk untuk atap. Uniknya, rumah ini tidak menggunakan paku, tetapi sambungan kayu dan pasak sebagai bentuk kearifan teknik pertukangan tradisional.

Namun, rumah tambi kuno umumnya tidak memiliki jendela atau ventilasi yang cukup, hanya terdapat satu pintu utama. Hal ini menyebabkan sirkulasi udara yang buruk, membuat bagian dalam rumah sering kali gelap dan dipenuhi asap saat aktivitas memasak berlangsung. Kondisi ini pula yang menyebabkan rumah tambi tidak lagi banyak digunakan oleh masyarakat modern karena dianggap kurang sehat dan tidak efisien secara konstruksi.

Menurut Kalvin Gae, Sekretaris Umum Komunitas Seni Tampo Lore (KSTL) sekaligus perwakilan Lembaga Adat Napu, meski rumah tambi sudah mulai ditinggalkan secara fungsional, namun nilai simboliknya tetap hidup dan menjadi representasi budaya masyarakat Lore.

“Tambi bukan hanya soal bentuk bangunan, tapi soal jati diri. Ia mewakili struktur sosial, nilai gotong royong, dan spiritualitas masyarakat Lore. Hilangnya rumah tambi bukan sekadar kehilangan fisik, tapi kehilangan akar,” ujar Kalvin kepada RRI.

Kalvin menjelaskan bahwa dalam tradisi adat, rumah tambi dibagi atas beberapa fungsi ruang. Lobona digunakan sebagai tempat menerima tamu; Asari adalah ruang multifungsi termasuk tempat tidur; sedangkan Rapu berfungsi sebagai dapur dan juga pemanas saat cuaca dingin.

Selain digunakan sebagai hunian, masyarakat Lore juga membangun Tambi Ponembaa, yaitu rumah ibadah berbentuk tambi yang digunakan untuk kegiatan keagamaan umat Kristiani. Tambi ponembaa biasanya berukuran lebih besar dari tambi tempat tinggal, dengan ruangan khusus seperti serambi, ruang ibadah, dan konsistori.

“Tambi ponembaa menjadi bukti bahwa rumah adat bukan hanya milik masa lalu. Ia bisa hidup berdampingan dengan keyakinan dan kebutuhan masa kini. Gereja-gereja di wilayah Napu masih ada yang mempertahankan bentuk tambi sebagai upaya merawat identitas lokal dalam kerangka spiritualitas modern,” jelas Kalvin.

Di tengah arus modernisasi, Kalvin berharap rumah tambi tidak hanya dikenang dalam buku sejarah atau museum, tetapi juga menjadi inspirasi dalam perencanaan ruang yang mengutamakan nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan keselarasan dengan alam.

“Kalau kita hanya membangun gedung tinggi tapi kehilangan nilai, kita sedang membangun masa depan tanpa akar. Tambi adalah akar kami, dan akar itu harus terus disiram,” pungkasnya. (AL)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....