Menembus Wilayah 3T Sigi: Kisah Sukses Perjuangan Mandiri Anggota Bioskop Todea

  • 17 Mei 2026 18:31 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, PALU – Menjalankan misi mulia mengedukasi masyarakat melalui media film di wilayah dengan kondisi geografis ekstrem bukanlah perkara mudah. Hal inilah yang dirasakan sehari-hari oleh sepuluh anggota inti komunitas Bioskop Todea saat harus mengantarkan layar tancap ke pelosok Kabupaten Sigi. Mereka harus berhadapan dengan infrastruktur jalan yang rusak berat, ketiadaan jaringan listrik, hingga ancaman cuaca buruk yang sewaktu-waktu dapat menghentikan pemutaran film.

Keterbatasan fasilitas di lokasi pemutaran pun menuntut kreativitas tinggi dari para anggota. Di wilayah yang belum teraliri listrik negara, mereka terpaksa memanfaatkan genset pinjaman milik tempat ibadah setempat agar perangkat proyektor dan pelantang suara tetap dapat menyala. Seluruh operasional berat tersebut dijalankan secara swadaya oleh para anggota tanpa adanya kepastian bantuan finansial tetap dari pihak luar.

Dalam dialog interaktif di studio RRI Palu, perwakilan divisi pemutaran teknis Bioskop Todea, Adam, menyampaikan keluh kesah sekaligus harapan besar mereka terhadap perhatian dari pemangku kebijakan daerah.

"Semoga ke depannya kita bisa mendapatkan lebih banyak dukungan supporting dari pemerintah tentunya, terutama pemerintah kabupaten. Selama kami berproses di Bioskop Todea kami selalu terkendala akses dan juga supporting untuk akomodasi kami bepergian," ungkap Adam.

Meski dihantam berbagai keterbatasan logistik dan dana, komitmen Bioskop Todea untuk melayani warga di wilayah 3T tidak pernah luntur. Bagi para pemuda ini, kebahagiaan warga desa yang jarang menyentuh sarana hiburan modern menjadi obat lelah yang tak ternilai harganya. Konsistensi pergerakan mandiri ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian pemuda mampu menembus batas-batas isolasi geografis.

Eksistensi gerakan Bioskop Todea ini diharapkan mampu membuka mata banyak pihak bahwa penuntasan masalah literasi di daerah tertinggal tidak bisa hanya dibebankan pada satu instansi saja. Kolaborasi aktif antara komunitas kreatif madani dan pemerintah daerah sangat dibutuhkan agar program edukasi dapat berjalan secara berkesinambungan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....