Timuddin: Falsafah Adat Jadi Penguat Kedamaian Sulawesi tengah

  • 21 Jun 2026 04:34 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID. Palu – Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Sulawesi Tengah sekaligus Ketua Dewan Adat Kota Palu, Dr. Drs. Timuddin Dg. Mangera Bauwo, M.Si., menegaskan pentingnya menjaga keamanan, kenyamanan, dan keharmonisan seluruh suku bangsa serta umat beragama di Sulawesi Tengah.

Menurut Timuddin, keberagaman yang ada di Sulawesi Tengah merupakan kekuatan besar yang harus dijaga bersama. Seluruh elemen masyarakat diminta untuk mengedepankan sikap saling menghormati, memahami perbedaan, serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Ia menjelaskan, keberadaan masyarakat adat telah memiliki pengakuan secara hukum melalui Pasal 18B Ayat (2) UUD 1945, yang mengatur pengakuan dan penghormatan negara terhadap masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat serta prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Kita memiliki falsafah adat yang menjadi pegangan dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu ‘Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Dalam falsafah Kaili juga dikenal nilai ‘Riu Batan Rajeje, Risitu Langi Ratande’, yang mengajarkan bagaimana kita menghormati tempat kita berada, menghargai sesama, dan menjaga keseimbangan kehidupan,” ujar Timuddin.

Ia menambahkan, nilai-nilai adat tersebut sejalan dengan semangat pembauran kebangsaan, karena mengajarkan masyarakat untuk hidup berdampingan tanpa melihat latar belakang suku, agama, maupun kelompok.

Menurutnya, konflik sosial sering kali muncul bukan karena perbedaan, tetapi karena kurangnya pemahaman dan komunikasi antar kelompok. Karena itu, dialog, toleransi, serta penghormatan terhadap nilai budaya menjadi kunci dalam menjaga persatuan.

Timuddin juga mengajak para tokoh adat, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat untuk bersama-sama menjadi penjaga kedamaian di daerah. Menurutnya, keamanan dan ketertiban bukan hanya tanggung jawab aparat, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat.

Ia berharap falsafah adat dan nilai kebangsaan terus ditanamkan kepada generasi muda agar Sulawesi Tengah tetap menjadi daerah yang aman, damai, dan penuh keharmonisan.

“Kalau kita saling menghargai, memahami aturan adat, dan menjunjung nilai kebersamaan, maka perbedaan akan menjadi kekuatan untuk membangun Sulawesi Tengah yang lebih baik,” tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....