PKKB Sulteng Perkuat Pelestarian Filosofi Dalihan Natolu
- 22 Mei 2026 10:48 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu — Perkumpulan Kerukunan Keluarga Batak Sulawesi Tengah (PKKB) terus berupaya menjaga kelestarian budaya Batak di tengah kehidupan masyarakat perantauan dan derasnya arus modernisasi. Salah satu nilai utama yang terus diwariskan yakni filosofi Dalihan Natolu yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat Batak dalam membangun hubungan sosial dan kekeluargaan.
Dalihan Natolu yang diibaratkan sebagai tiga tungku kehidupan terdiri dari “manat mardongan tubu” yang berarti saling menjaga antar semarga, “somba marhula-hula” yakni menghormati keluarga pihak istri, serta “elek marboru” yang bermakna mengayomi anak perempuan. Filosofi tersebut tidak hanya diterapkan dalam acara adat besar, namun juga menjadi dasar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Batak di perantauan.
Seksi bidang adat PKKB Sulawesi Tengah, Effendi Sihaan mengatakan nilai Dalihan Natolu menjadi perekat yang menjaga keharmonisan hubungan antar keluarga Batak di mana pun berada. Menurutnya, budaya Batak memiliki kekuatan dalam membangun solidaritas dan rasa saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat Sulawesi Tengah.
“Dalihan Natolu bukan hanya adat ketika pesta atau acara kematian, tetapi menjadi pedoman dalam bersikap dan berinteraksi sehari-hari. Nilai itu harus terus hidup meskipun kami berada jauh dari tanah Batak,” ujar Effendi Sihan saat dialog di Pro 4 RRI Palu.
Ia menjelaskan tantangan terbesar saat ini datang dari generasi muda Batak yang lahir dan tumbuh di luar tanah Batak. Banyak di antara mereka mulai kurang memahami bahasa daerah maupun tata cara adat karena pengaruh lingkungan modern dan minimnya penggunaan bahasa Batak di rumah.
Sementara itu, AP Sinambela menilai pelestarian budaya harus dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua memiliki peran penting dalam mengenalkan bahasa, adat, dan filosofi Batak sejak usia dini agar identitas budaya tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
“Kalau bukan dimulai dari rumah, anak-anak akan semakin jauh dari akar budayanya. Karena itu, orang tua harus aktif mengajarkan bahasa dan nilai adat dalam kehidupan sehari-hari,” kata AP Sinambela.
PKKB Sulawesi Tengah juga terus mendorong kegiatan budaya dan pertemuan keluarga Batak sebagai ruang pembelajaran bagi generasi muda. Berbagai kegiatan adat, diskusi budaya, hingga perayaan tradisional menjadi sarana memperkenalkan kembali nilai-nilai luhur Batak kepada anak-anak muda di perantauan.
Meski menghadapi tantangan modernisasi, tokoh adat Batak di Sulawesi Tengah menegaskan adat dan budaya Batak tetap memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan perkembangan zaman. Penyesuaian dapat dilakukan tanpa menghilangkan makna utama dari Dalihan Natolu sebagai fondasi kehidupan masyarakat Batak.
Melalui penguatan pendidikan budaya dalam keluarga dan komunitas, PKKB berharap generasi muda Batak di Sulawesi Tengah tetap mengenal identitas serta warisan leluhur mereka. Dengan demikian, nilai persaudaraan dan penghormatan yang terkandung dalam Dalihan Natolu dapat terus hidup lintas generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....