Lawan Kepunahan Kain Tradisional, Restui Pernikahan Hanya untuk Gadis Penenun

  • 16 Sep 2026 20:59 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu – Regenerasi penenun menjadi salah satu tantangan dalam upaya mempertahankan keberlangsungan tenun tradisional di Indonesia. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan minat generasi muda, sejumlah masyarakat masih mempertahankan tradisi menenun melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga.

Pencinta dan pemerhati budaya sekaligus fashion designer asal Palu, Evan Tungga, menceritakan salah satu upaya masyarakat lokal dalam menjaga keberlanjutan tradisi tersebut saat berbagi pengalaman di LPP RRI Palu. Menurutnya, terdapat aturan adat yang mendorong anak perempuan mempelajari keterampilan menenun sejak usia dini.

"Cerita lucunya adalah apa yang saya dapatkan dari sana, mereka selalu mendidik anaknya yang perempuan kasih tahu enggak bisa menikah kalau belum bisa menenun. Orang tua enggak akan merestui kalau anak perempuannya tidak bisa menenun. Supaya ada keberlanjutan," ujarnya.

Menurut Evan, penerapan tradisi tersebut membuat keterampilan menenun mulai dikuasai anak perempuan sejak usia sekolah dasar. Bahkan, sejumlah anak disebut telah mampu membuat kain tenun ketika masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, sembari tetap menjalankan pendidikan formal.

Evan menilai keterlibatan keluarga dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan keterampilan menenun. Upaya tersebut menunjukkan bahwa regenerasi penenun dapat dilakukan melalui pengenalan keterampilan sejak dini dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....