Maleo Saluki, Penjaga Warisan Fauna Sulawesi
- 21 Sep 2026 07:50 WIB
- Palu
Poin Utama
- Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Sigi berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir bagi kelestarian Burung Maleo yang terancam punah.
- Burung Maleo memiliki keunikan luar biasa dalam proses pembiakan, tidak mengerami telur menggunakan suhu tubuhnya melainkan memanfaatkan panas bumi (geothermal) atau pasir hangat alami.
- Upaya konservasi berbasis habitat alami dan penangkaran terus dilaksanakan untuk menjaga populasi Burung Maleo sebagai satwa endemik Sulawesi Tengah.
RRI.CO.ID, Palu - Taman Nasional Lore Lindu, kawasan konservasi Saluki di Kabupaten Sigi, menjadi salah satu habitat penting bagi kelestarian Burung Maleo (Macrocephalon maleo). Satwa endemik Sulawesi ini terus dilindungi melalui berbagai upaya konservasi untuk mempertahankan keberadaannya di habitat alami.
Keunikan utama proses reproduksi Burung Maleo terletak pada cara satwa ini menetaskan telurnya. Maleo tidak mengerami telur menggunakan suhu tubuh, tetapi memanfaatkan panas bumi atau pasir hangat sebagai sumber panas untuk proses inkubasi.
Penelitian Universitas Tadulako yang diterbitkan dalam Media Eksakta mencatat, kawasan Saluki, Taman Nasional Lore Lindu, sebagai lokasi penelitian perilaku bertelur Maleo. Penelitian tersebut dilakukan pada Maret hingga Desember 2021 untuk mengkaji perilaku bertelur, karakteristik sarang, serta kondisi habitat Maleo di kawasan tersebut.
Telur Burung Maleo berukuran jauh lebih besar dibandingkan telur ayam dan ditanam di dalam tanah pada lokasi yang memiliki kondisi lingkungan sesuai. Setelah menetas, anak Maleo harus menggali tanah menuju permukaan dan selanjutnya mampu bergerak serta mencari makanan secara mandiri.
Keberadaan satwa endemik ini tetap menghadapi berbagai tekanan, termasuk gangguan terhadap habitat dan keberadaan predator alami. Karena itu, perlindungan lokasi bertelur atau nesting site menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan siklus reproduksi Maleo di Saluki.
Upaya konservasi juga perlu memperhatikan kondisi habitat tempat Maleo bertelur karena karakteristik lingkungan memiliki hubungan dengan keberadaan dan pola sarangnya. Penelitian di Saluki menunjukkan bahwa pemahaman terhadap perilaku bertelur dan habitat menjadi bagian penting dalam mendukung upaya pelestarian Maleo.
Penangkaran dan pembinaan populasi Maleo di Saluki pada akhirnya tidak hanya menjadi bagian dari upaya menyelamatkan satwa endemik Sulawesi. Kawasan tersebut juga dapat menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga habitat, keanekaragaman hayati, dan warisan fauna Sulawesi Tengah untuk generasi mendatang. (DL)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....