Patahkan Stigma Gender, Generation Girl Palu Dorong Perempuan Paham STEM

  • 13 Agt 2026 15:04 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, PaluPerkembangan pesat teknologi informasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menuntut generasi muda untuk semakin adaptif dan terampil di ranah digital. Namun, stigma gender yang kerap memandang sebelah mata peran perempuan di bidang sains dan teknologi masih menjadi tantangan di berbagai daerah, termasuk di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Menjawab tantangan tersebut, komunitas nirlaba Generation Girl atau bisa disebut (Geng) Chapter Palu hadir sebagai wadah pemberdayaan perempuan muda di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Resmi berdiri sejak awal tahun 2026, cabang ini menjadi pelopor gerakan pemberdayaan teknologi perempuan pertama dari Generation Girl di Pulau Sulawesi.

Inisiator sekaligus Chapter Lead Generation Girl Palu, Andi Gita Magfira Pratiwi Putri, menuturkan bahwa pembentukan komunitas ini berawal dari keprihatinannya melihat banyaknya potensi mahasiswi dan lulusan teknik di Palu yang belum terwadahi dengan optimal dalam pengembangan karier teknologi.

"Banyak perempuan masih dipandang sebelah mata di bidang teknologi, seolah-olah tidak ahli soal komputer atau teknik. Melalui Generation Girl, kami ingin membuktikan bahwa bidang teknologi itu sangat luas dan menyenangkan. Tidak hanya coding, ada ranah UI/UX design, data science, hingga web development yang bisa dikuasai perempuan," ujar Andi Gita dalam siaran Jaga Malam di Pro 2 RRI Palu.

Selain fokus mengasah keahlian teknis, Generation Girl Palu juga menaruh perhatian besar pada isu keamanan data pribadi perempuan di dunia maya. Maraknya rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang menyasar foto dan identitas diri tanpa izin menjadi salah satu alasan mendesak mengapa perempuan harus melag teknologi sejak dini.

Edukasi mengenai privasi digital menjadi materi penting yang terus disosialisasikan komunitas agar para remaja wanita tidak mudah menjadi korban kejahatan siber. Pemahaman mengenai risiko manipulasi AI dinilai penting untuk membentengi diri dari penyalahgunaan data pribadi di platform media sosial.

Sementara itu, Relawan (Volunteer) Generation Girl Palu, Tenri, menyampaikan bahwa pengenalan terhadap teknologi dan AI harus dilakukan secara bijak dan inklusif. Menurutnya, kecerdasan buatan bukan ancaman yang harus ditakuti, melainkan alat bantu produktif yang harus dipelajari batas-batas penggunaannya.

"Teknologi AI saat ini berkembang sangat pesat dan sudah berdampingan dengan kehidupan sehari-hari. Perempuan harus paham dampak positif maupun risiko negatifnya agar tidak tertinggal. Kita harus bisa memanfaatkan AI sebagai alat kolaborasi yang produktif," pungkas Tenri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....