Siswa SD Belajar Batik Banava lewat Teknologi VR
- 14 Agt 2026 09:35 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu - Upaya pelestarian budaya lokal di Sulawesi Tengah kini hadir dengan sentuhan teknologi modern. Tim akademisi bersama para alumni Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Tadulako kini telah meluncurkan program edukasi pengenalan Batik Banava dengan memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) untuk siswa sekolah dasar.
Inovasi ini dirancang agar generasi muda dapat mengenal dan merasakan pengalaman budaya secara interaktif sejak dini. Melalui perangkat VR tersebut, para siswa tidak hanya sekadar melihat tampilan visual motif batik secara digital, tetapi juga diajak menjelajahi galeri virtual yang memuat sejarah dan nilai edukasi batik.
Sepeti yang di lakukan di beberapa sekolah di Kabupaten Donggala. Sebelum mencoba praktik membatik secara langsung, para pelajar akan diperkenalkan terlebih dahulu pada latar belakang motif lokal khas Sulawesi Tengah, seperti motif tanaman kelor dan satwa endemik anoa.
Hasilnya tidak sedikit dari mereka yang merespon dengan senang, apa lagi saat simulasi pengenalan ruang virtual berlangsung. Karena keterbatasan waktu dan banyaknya murid yang ingin mencoba, durasi penggunaan VR harus dibatasi agar seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang sama. Proses pembelajaran ini terbukti mampu meningkatkan rasa ingin tahu para pelajar. Mereka pun menjadi jauh lebih bersemangat untuk mempelajari warisan budaya daerah secara mendalam.
“Mengenalkan batik kepada anak anak bukan sebatas mempertontonkan corak dan warna. Kehadiran rasa dalam setiap prosesnya adalah kunci agar mereka benar-benar mencintai warisan budaya ini,"ujar Riska Efendi, alumni Mahasiswi PGSD Untad dalam Program dialog RRI Pro 2 RRI Palu.
Selain simulasi di dunia virtual, para siswa juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan proses membatik secara langsung, salah satunya adalah teknik mencanting. Kombinasi antara teknologi digital dan pengalaman praktis ini dinilai mampu mengubah persepsi bahwa kegiatan membatik hanya didominasi oleh kalangan orang tua.
Guna menjaga keberlanjutan program pengenalan budaya ini, tim penyusun juga tengah menyiapkan modul pembelajaran seni rupa berbasis batik untuk tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Diharapkan, materi edukasi yang dirancang lintas disiplin ilmu ini dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dan menjadi inspirasi bagi pelestarian kearifan lokal di wilayah lainnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....