Bioskop Todea Dorong Pelestarian Karya Sineas Daerah

  • 17 Mei 2026 17:58 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Dunia perfilman independen di Sulawesi Tengah sebenarnya melahirkan banyak talenta berbakat dengan karya-karya yang kritis dan berbobot. Sayangnya, ekosistem industri film di daerah masih dihadapkan pada kendala klasik, yaitu minimnya jalur distribusi dan ruang putar alternatif. Alhasil, mayoritas film pendek independen lokal hanya berakhir di dalam penyimpanan komputer atau perangkat keras pribadi pembuatnya tanpa pernah disaksikan oleh masyarakat luas.

Fenomena memprihatinkan inilah yang melatarbelakangi komunitas Bioskop Todea untuk mengambil peran sebagai penyelamat arsip kebudayaan visual daerah. Komunitas yang berbasis di Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi ini memosisikan diri sebagai jembatan yang menghubungkan kembali para sineas lokal dengan penonton sejatinya. Mereka mengumpulkan karya-karya lokal yang sempat "mati suri" untuk kembali dihidupkan melalui layar-layar tancap di pelosok pedesaan.

Dalam sebuah wawancara eksklusif di RRI Palu, divisi pemutaran teknis Bioskop Todea, Adam, memaparkan fungsi krusial dari kehadiran pergerakan mereka. Menurutnya, menghidupkan film daerah bukan sekadar perkara memberikan hiburan, melainkan bagian dari upaya menjaga identitas kultural masyarakat Sulawesi Tengah agar tidak tergerus zaman.

"Salah satu tugas dan fungsinya Bioskop Todea sendiri selain kita mendukung literasi digital, kita juga mendukung namanya pengarsipan film-film daerah, khususnya di Kabupaten Sigi. Jadi hadirnya Bioskop Todea itu sebagai wadah alternatif untuk mempertemukan film mereka kepada masyarakat," ungkap Adam.

Melalui wadah alternatif ini, Bioskop Todea secara aktif merekomendasikan film-film berkualitas tinggi yang sarat akan pesan sosial. Beberapa film yang sering mereka bawa di antaranya adalah 'Mountain Song' (2019) karya sutradara Yusuf Raja Muda yang bercerita tentang ketangguhan hidup seorang anak di pedalaman Kecamatan Pipikoro. Selain itu, ada juga film lokal berlatar legenda sejarah bertajuk 'Ato Lelembung' karya Anca Latif yang merekam warisan narasi luhur masyarakat Sigi.

Langkah pengarsipan aktif ini dinilai memberikan dampak psikologis yang sangat positif bagi perkembangan kreativitas para sineas muda daerah. Dengan adanya ruang putar yang konsisten, para sutradara dan produser lokal kembali bergairah untuk memproduksi karya-karya baru karena mereka tahu karya mereka dihargai. Komunitas ini juga rutin membuka sesi diskusi pascapemutaran yang mempertemukan sineas secara langsung dengan warga desa guna menerima kritik dan saran konstruktif.

Ke depan, Bioskop Todea menargetkan penguatan basis data digital untuk menginventarisasi seluruh film independen yang pernah diproduksi di Sulawesi Tengah. Langkah ini diharapkan dapat mempermudah akses bagi lembaga pendidikan atau kebudayaan yang ingin mempelajari sosiologi masyarakat melalui karya seni visual. Dengan demikian, film-film lokal tidak akan lagi menjadi "sampah digital" yang terlupakan, melainkan aset sejarah yang terus hidup di tengah masyarakatnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....