Historia Pikat Pengunjung lewat Film Guru Tua dalam Kenangan

  • 31 Mar 2026 10:09 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Antusiasme masyarakat terhadap kehadiran Komunitas Historia dalam Festival Raudhah tahun ini mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari ramainya pengunjung yang memadati area pameran sejak pagi hingga malam hari, terutama di stan yang menampilkan sejarah lokal dan tokoh-tokoh penting daerah.

Salah satu daya tarik utama yang membuat festival tahun ini semakin meriah adalah pemutaran film dokumenter berjudul "Guru Tua Dalam Kenangan". Film tersebut berhasil menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga orang tua, yang tampak serius menyimak kisah perjuangan dan pengabdian Guru Tua dalam dunia pendidikan dan dakwah.

Selain pemutaran film, Komunitas Historia juga menghadirkan koleksi foto-foto baru yang belum pernah dipamerkan sebelumnya. Foto-foto tersebut memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Guru Tua, mulai dari aktivitas sehari-hari hingga momen bersejarah yang jarang diketahui publik. Kehadiran arsip visual ini semakin memperkaya pengalaman pengunjung dalam mengenal sosok Guru Tua.

Ketua Komunitas Historia Sulawesi Tengah, Mohammad Herianto, menyampaikan bahwa meningkatnya minat masyarakat merupakan sinyal positif terhadap kesadaran sejarah. Ia menegaskan bahwa generasi muda perlu lebih dekat dengan sejarah lokal agar tidak kehilangan jati diri.

“Melalui film, foto, dan arsip yang kami tampilkan, kami ingin masyarakat tidak hanya mengenal, tetapi juga memahami perjuangan Guru Tua. Ini bagian dari upaya kami untuk mengedukasi sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah di tengah masyarakat,” ujar Herianto saat ditemui di lokasi festival.

Lebih lanjut, Komunitas Historia mengajak masyarakat untuk turut serta mempelajari sejarah Guru Tua sebagai langkah penting dalam mendukung upaya penetapan beliau sebagai Pahlawan Nasional. Menurut Herianto, pemahaman sejarah yang kuat dari masyarakat akan menjadi fondasi penting dalam memperjuangkan pengakuan tersebut di tingkat nasional.

Ia juga menambahkan bahwa pembelajaran sejarah tidak harus dilakukan secara formal, melainkan bisa melalui berbagai media seperti foto, arsip, hingga film dokumenter yang mudah diakses. Dengan cara ini, diharapkan masyarakat semakin dekat dengan sejarah dan memiliki rasa tanggung jawab untuk melestarikannya. (AL)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....