Self-Care Kunci Atasi Stres Remaja Era Digital.

  • 22 Feb 2026 06:30 WIB
  •  Palu

RRI.CO.ID, Palu - Program Sore Ceria di RRI Pro 2 Palu kembali menginspirasi pendengar melalui tema Self-Care untuk Remaja. Menghadirkan narasumber istimewa, Umi Kalsum, yang juga dikenal sebagai Duta Kesehatan Mental Indonesia, perbincangan kali ini membahas tantangan kesehatan mental generasi muda di era digital.

Dalam siaran tersebut, Umi Kalsum menyoroti fenomena Fear of Missing Out (FOMO) hingga tekanan akademik berbasis teknologi yang semakin intens. Ia menjelaskan bahwa remaja saat ini cenderung mengikuti tren tanpa filter demi menghindari rasa tertinggal.

“Remaja sekarang itu apa yang lagi tren, apa yang lagi viral, diikutin. Mau baik atau enggak, mereka tetap ikut karena takut tertinggal (FOMO),” ujarnya.

Selain tekanan sosial, perkembangan teknologi juga memunculkan beban baru dalam dunia pendidikan. Penggunaan berbagai aplikasi digital yang belum sepenuhnya dikuasai siswa kerap memicu kebingungan dan overthinking, terlebih ketika terjadi ketidaksinkronan antara materi daring dan ujian. Kondisi ini diperparah saat masa pandemi COVID-19, ketika sistem pembelajaran beralih sepenuhnya ke daring.

“Dulu pas COVID, kuliah full online. Waktunya fleksibel, tapi dosen kadang masuk sampai malam. Kita seolah-olah digas terus, padahal belajar lewat Zoom itu bikin stres karena kurangnya interaksi langsung dan kendala jaringan yang bikin nilai jelek,” paparnya.

Sebagai upaya konkret, Umi Kalsum bersama rekannya menyusun Buku Saku Kesehatan Mental Remaja yang dirancang menarik dan mudah dipahami. Buku ini membantu remaja mengenali gejala gangguan mental sejak dini sekaligus memberikan langkah preventif dalam mengelola emosi. Tak hanya menyasar remaja, buku tersebut juga memuat edukasi parenting bagi orang tua agar terhindar dari pola asuh yang berpotensi merusak kesehatan mental anak.

Ia mengingatkan pentingnya keberanian mencari bantuan profesional. Ia menegaskan bahwa layanan psikolog kini telah tersedia di sejumlah puskesmas di Palu, sehingga remaja tidak perlu ragu untuk berkonsultasi.

“Jangan tunggu sampai parah atau ada niat bunuh diri baru mencari bantuan,” tegasnya, seraya menyerukan pentingnya lingkungan yang suportif dan keterbukaan dalam menjaga kesehatan mental generasi muda. (FQ)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....