Kenali Tahapan Siaga Bencana agar Lebih Siap Menghadapi Risiko
- 14 Mar 2026 21:27 WIB
- Palu
RRI.CO.ID, Palu – Masyarakat diimbau untuk memahami tahapan kesiapsiagaan bencana agar dapat bertindak cepat dan tepat ketika terjadi situasi darurat. Kelompok Siaga Bencana (KSB) menjelaskan bahwa terdapat empat fase penting yang perlu dipahami masyarakat, yakni fase normal, waspada, siaga, dan awas. Dalam wawancara program Jaga Malam PRO 2 RRI Palu, Intan Ketua KSB Desa Wisolo, kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi menyampaikan bahwa setiap fase memiliki peran dan tindakan yang berbeda bagi anggota keluarga, mulai dari ayah, ibu, anak-anak hingga kelompok rentan seperti lansia.
Pada fase normal, masyarakat menjalankan aktivitas seperti biasa. Namun dalam kondisi ini, warga tetap diharapkan memiliki pemahaman dasar mengenai potensi bencana yang mungkin terjadi di wilayahnya.
Memasuki fase waspada, masyarakat mulai meningkatkan perhatian terhadap informasi kebencanaan. Pada tahap ini, peran kepala keluarga menjadi penting untuk memantau informasi yang disampaikan oleh kelompok siaga bencana atau sumber resmi lainnya.
“Kalau bapak berada di luar rumah atau di luar desa, dia bisa menghubungi keluarga di rumah untuk memastikan kondisi dan memberikan informasi,” ujarnya.
Sementara itu, peran ibu di rumah juga tidak kalah penting. Pada fase waspada, ibu biasanya mulai menyiapkan tas siaga bencana yang berisi kebutuhan penting dan menempatkannya di lokasi yang mudah dijangkau. Tas tersebut diharapkan sudah siap dibawa sewaktu-waktu jika kondisi memburuk.
Di beberapa wilayah, tanda-tanda alam juga menjadi indikator kewaspadaan. Misalnya, jika terjadi hujan dalam durasi lama di wilayah hulu sungai, masyarakat sudah mulai bersiap menghadapi potensi banjir atau bencana lainnya.
Dalam situasi tersebut, orang tua juga mulai memastikan keberadaan anak-anak. Jika anak sedang berada di sekolah, keluarga dapat berkoordinasi dengan pihak sekolah atau menjemput mereka lebih awal. Sementara untuk kelompok rentan seperti lansia, keluarga dapat menempatkan mereka di lokasi yang lebih aman sambil menunggu perkembangan situasi.
“Kelompok rentan biasanya lebih dulu dievakuasi oleh tim KSB sembari memberikan informasi kepada masyarakat lainnya,” jelasnya.
Dalam proses tersebut, setiap anggota keluarga memiliki peran masing-masing. Ibu biasanya bertugas membawa tas siaga dan mendampingi anak-anak, sementara ayah membantu proses evakuasi anggota keluarga lainnya serta mengamankan hewan peliharaan jika ada.
Tahap terakhir adalah fase awas, yaitu kondisi ketika seluruh masyarakat sudah berada di titik kumpul atau lokasi aman yang telah ditentukan sebelumnya. “Pada fase awas, semua warga sudah berada di tempat aman, baik masyarakat umum maupun kelompok rentan,” katanya.
Melalui pemahaman terhadap fase kesiapsiagaan tersebut, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi potensi bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Edukasi seperti ini juga penting disebarluaskan agar semakin banyak masyarakat yang memahami langkah-langkah keselamatan dasar, terutama bagi mereka yang belum pernah mengikuti sosialisasi kebencanaan secara langsung. (IM)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....